Gen Z gampang resign.”

Kalimat ini makin sering terdengar di ruang meeting, forum HR, sampai timeline LinkedIn. Banyak yang menganggap karyawan muda hari ini kurang loyal, tidak tahan tekanan, dan terlalu cepat mengambil keputusan resign kerja.

Tetapi, benarkah sesederhana itu?

Atau jangan-jangan, fenomena Gen Z gampang resign ini bukan soal mental lemah, melainkan perubahan cara pandang terhadap dunia kerja? Yuk, kita bahas lebih dalam!

Tren Resign Karyawan Muda: Angka Naik, Tapi Kenapa?

Beberapa tahun terakhir, tren resign karyawan muda di Indonesia menunjukkan peningkatan, terutama pada 1–2 tahun pertama masa kerja. HR mulai kewalahan menghadapi turnover karyawan Gen Z yang dinilai lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Namun jika dilihat dari sudut pandang berbeda, Gen Z tumbuh dalam dunia yang jauh lebih dinamis:

  • Informasi terbuka luas
  • Peluang kerja remote tersedia
  • Personal branding bisa dibangun lewat LinkedIn & media sosial
  • Akses belajar skill baru sangat cepat

Mereka tidak lagi melihat pekerjaan sebagai “tempat bertahan puluhan tahun”, melainkan sebagai bagian dari perjalanan growth.

Selain faktor internal perusahaan, perubahan cara pandang terhadap karier juga memengaruhi tren resign kerja ini. Gen Z hidup di era di mana peluang tidak lagi terbatas secara geografis. Mereka melihat teman sebaya bekerja untuk perusahaan luar negeri secara remote, membangun side hustle, atau berpindah industri dengan cepat.

Paparan tersebut membentuk mindset baru: pekerjaan adalah ruang eksplorasi, bukan sekadar tempat bertahan. Jika lingkungan kerja terasa stagnan, keputusan resign kerja bukan lagi sesuatu yang menakutkan, tetapi dianggap sebagai langkah strategis untuk berkembang.

Pertanyaannya adalah apakah ini berarti mereka tidak loyal? Atau loyalitas itu sendiri yang sedang berubah definisinya?

Kenapa Gen Z Sering Resign dari Pekerjaan Pertama?

Salah satu pola paling umum: Gen Z resign dari pekerjaan pertama dalam waktu relatif singkat.

Kenapa Gen Z sering resign dari pekerjaan pertama?

1. Ekspektasi vs Realita Kerja

Di kampus atau media sosial, pekerjaan terlihat fleksibel, kreatif, dan penuh impact. Namun saat masuk dunia kerja, mereka menemukan:

  • Budaya kerja kaku
  • Atasan minim feedback
  • Jam kerja tidak jelas
  • Tidak ada ruang diskusi

Kesenjangan ini sering memicu kekecewaan. Ada pula faktor yang sering terlewat: kurangnya kejelasan ekspektasi sejak awal. 

Banyak karyawan muda masuk dengan semangat tinggi, tetapi bingung dengan prioritas kerja, standar performa, dan target yang harus dicapai.Ketika tidak ada arahan yang jelas dalam 3–6 bulan pertama, rasa keterikatan sulit terbentuk.

2. Resign Bukan Karena Gaji, Tapi Karena Lingkungan Kerja

Banyak HR mengira alasan resign Gen Z selalu soal kompensasi. Faktanya, Gen Z resign karena toxic workplace lebih sering terjadi daripada yang disadari.

Lingkungan kerja yang penuh tekanan tanpa apresiasi, komunikasi satu arah, atau budaya menyalahkan membuat mereka memilih keluar.

Bagi Gen Z, kesehatan mental bukan sekadar tren melainkan prioritas. Jika mereka merasa tidak dihargai atau tidak berkembang, mereka tidak ragu untuk mencari tempat yang lebih sehat.

3. Tidak Ada Career Path yang Jelas

Gen Z tumbuh dengan mindset progress. Mereka ingin tahu:

  • Dalam 6 bulan saya akan berkembang jadi apa?
  • Skill apa yang saya pelajari?
  • Apa target karier saya di sini?

Ketika perusahaan tidak memberikan roadmap yang jelas, mereka melihat resign sebagai cara mencari pertumbuhan di tempat lain.

Dalam banyak kasus, resign bukan bentuk ketidaksabaran, melainkan respons terhadap ketidakjelasan.

Job Hopping Gen Z: Tidak Loyal atau Adaptif?

Istilah job hopping Gen Z sering dipandang negatif. Padahal, jika dilihat dari perspektif berbeda, ini bisa menjadi bentuk adaptasi.

Gen Z hidup di era:

  • Industri berubah cepat
  • Skill cepat usang
  • Kompetisi global semakin ketat

Mereka sadar bahwa satu-satunya aset utama adalah kemampuan diri.

Resign di usia muda apakah keputusan tepat?Bagi mereka, jika pekerjaan tidak memberi ruang berkembang, jawabannya: ya.

Gen Z lebih memilih work life balance dan growth dibanding bertahan demi “status aman”.

Apakah ini salah? Belum tentu. Bisa jadi ini adalah bentuk kesadaran karier yang lebih matang sejak dini.

Dampak Turnover Karyawan Gen Z bagi Perusahaan

Meski bisa dipahami, fenomena Gen Z gampang resign tetap membawa dampak nyata bagi perusahaan.

1. Cost Recruitment Membengkak

Proses hiring, onboarding, dan training membutuhkan biaya besar.

2. Produktivitas Terganggu

Setiap kali karyawan resign kerja, tim perlu waktu adaptasi ulang.

3. Employer Branding Terpengaruh

Jika banyak karyawan muda keluar cepat, reputasi perusahaan bisa terdampak di mata kandidat baru.

Selain itu, dinamika tim juga ikut berubah. Ketika anggota tim sering berganti, stabilitas kolaborasi terganggu. Rekan kerja yang tersisa bisa merasa terbebani karena harus mengambil alih tugas sementara. Jika terjadi berulang, risiko burnout meningkat.

Di era digital, pengalaman kerja pun mudah tersebar luas. Review anonim di platform karier dapat memengaruhi persepsi kandidat baru. Artinya, turnover karyawan Gen Z bukan hanya isu internal, tetapi juga berdampak pada citra eksternal perusahaan.

Inilah mengapa strategi HR menghadapi Gen Z yang mudah resign menjadi sangat penting.

Gen Z Tidak Anti Kerja Keras, Mereka Anti Tidak Bermakna

Ada satu miskonsepsi besar: Gen Z dianggap tidak tahan banting.

Padahal, banyak dari mereka rela lembur untuk project yang meaningful. Mereka mau bekerja keras, asal:

  • Pekerjaan jelas tujuannya
  • Kontribusi mereka dihargai
  • Ada komunikasi terbuka

Gen Z bukan generasi manja. Mereka generasi yang sadar value diri.

Mereka tidak ingin hanya “hadir”, tapi ingin “berarti”.

Strategi HR Menghadapi Gen Z yang Mudah Resign

Lalu, apa solusi perusahaan agar Gen Z tidak cepat resign?

Berikut beberapa pendekatan yang bisa diterapkan:

1. Bangun Komunikasi Dua Arah

Gen Z ingin didengar.

HR dan leader perlu lebih aktif melakukan:

  • One-on-one meeting
  • Feedback rutin
  • Open forum diskusi

Langkah preventif seperti pulse survey singkat atau check-in bulanan juga efektif untuk mendeteksi potensi resign lebih awal. Ketika karyawan merasa diperhatikan sebelum mereka ingin keluar, engagement meningkat signifikan.

2. Transparansi Career Path

Jelaskan sejak awal:

  • KPI yang jelas
  • Jalur promosi
  • Skill yang akan dikembangkan

Tanpa roadmap, Gen Z merasa berjalan tanpa arah, dan itu sering jadi alasan resign.

3. Fokus pada Employee Experience

Bukan hanya benefit materi, tapi juga pengalaman kerja:

  • Budaya sehat
  • Apresiasi kecil tapi konsisten
  • Work life balance realistis

4. Leader yang Menjadi Mentor, Bukan Hanya Atasan

Gen Z menghargai pemimpin yang:

  • Mau mengajarkan
  • Mau mendengar
  • Mau memberi arahan jelas

Leadership style sangat memengaruhi tingkat turnover karyawan Gen Z.

5. Meaningful Work

Gen Z ingin tahu dampak pekerjaannya. Jika mereka merasa hanya menjadi “roda kecil tanpa makna”, motivasi turun. Namun ketika mereka melihat kontribusinya berdampak, loyalitas meningkat.

Loyalitas Versi Lama vs Loyalitas Versi Baru

Dulu, loyalitas berarti bertahan lama di satu perusahaan.

Hari ini, loyalitas Gen Z lebih kepada:

  • Loyal pada value
  • Loyal pada growth
  • Loyal pada kesehatan mental

Indikator keberhasilan retensi pun perlu berubah. Tidak hanya masa kerja, tetapi juga engagement, kepuasan, dan produktivitas.

Jika perusahaan mampu menyediakan ruang berkembang dan budaya sehat, resign bukan lagi ancaman besar.

Apakah Perusahaan yang Harus Berubah?

Realitanya, dunia kerja memang sedang berubah.

Generasi baru membawa pola pikir baru. HR tidak lagi bisa memakai pendekatan generasi lama untuk mengelola generasi digital.

Fenomena resign kerja di kalangan Gen Z bukan semata masalah attitude, tetapi tanda bahwa sistem kerja perlu berevolusi.

Perusahaan yang adaptif akan bertahan.Yang kaku, akan kesulitan mempertahankan talenta muda.

Jadi Kalau Gen Z Gampang Resign, Itu Masalah atau Alarm?

Jika dilihat sekilas, turnover karyawan Gen Z memang merepotkan.

Namun jika dilihat lebih dalam, ini bisa menjadi alarm sehat:

  • Apakah budaya kerja kita relevan?
  • Apakah leadership sudah adaptif?
  • Apakah employee experience benar-benar diperhatikan?

Gen Z bukan generasi pembangkang. Mereka generasi reflektif.

Mereka berani resign kerja ketika merasa tidak berkembang. Mereka berani keluar dari lingkungan kerja yang tidak sehat. Dan dalam banyak kasus, keberanian itu lahir dari kesadaran diri.

Kesimpulan

Alih-alih terus mengatakan “Gen Z gampang resign”, mungkin kita perlu mengganti pertanyaannya menjadi:

“Apa yang bisa perusahaan lakukan agar mereka ingin bertahan?”

Karena pada akhirnya, loyalitas bukan dipaksa. Loyalitas dibangun dari:

  • Kepercayaan
  • Transparansi
  • Growth
  • Lingkungan sehat

Gen Z tidak anti kerja keras.Mereka hanya tidak ingin bekerja di tempat yang tidak menghargai mereka. Dan mungkin, itu bukan kelemahan. Itu standar baru dunia kerja.

Baca juga artikel lain seputar dunia kerja di blog Kerjoo!