Gaji masuk tanggal 25.
Tanggal 26 langsung transfer ke orang tua.
Tanggal 27 ikut membantu kebutuhan keluarga.
Tanggal 28 mulai menghitung ulang sisa saldo untuk diri sendiri.
Jika situasi ini terasa familiar, besar kemungkinan kamu termasuk dalam fenomena yang dikenal sebagai sandwich generation.
Istilah ini bukan sekadar tren di media sosial. Di Indonesia, fenomena ini semakin nyata dan dialami oleh jutaan usia produktif. Bukan hanya generasi milenial, tetapi juga Gen Z yang baru memulai karier.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sandwich generation? Mengapa perannya bisa begitu besar hingga berdampak pada kondisi finansial bahkan kesehatan mental?
Di bagian berikutnya, Kerjoo akan membahas fenomena ini lebih dalam, mulai dari data dan realitas yang terjadi di Indonesia, dampaknya terhadap kondisi finansial dan mental, hingga strategi yang realistis agar tetap bisa menjalankan tanggung jawab keluarga tanpa mengorbankan masa depan pribadi.
Apa Itu Sandwich Generation?
Sandwich generation adalah kondisi ketika seseorang berada di posisi “terjepit” secara finansial karena harus menanggung kebutuhan dua generasi sekaligus, biasanya orang tua dan anak atau adik, di saat yang sama ia juga sedang membangun masa depannya sendiri.
Disebut “sandwich” karena posisinya berada di tengah, di antara dua tanggung jawab besar. Di Indonesia, fenomena ini semakin meningkat karena beberapa faktor”
- Minimnya dana pensiun generasi sebelumnya
- Rendahnya literasi keuangan keluarga
- Budaya bahwa anak adalah penopang hari tua
- Biaya hidup dan kesehatan yang terus meningkat
Banyak karyawan muda akhirnya menjadi tulang punggung keluarga, bahkan sebelum mereka stabil secara finansial.
Data Statistik Indonesia: Realita Sandwich Generation
Ketergantungan Generasi Produktif Sudah Tinggi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio ketergantungan usia non-produktif terhadap usia produktif di Indonesia mencapai 44,67% pada 2022, artinya dari setiap 100 orang usia produktif, hampir 44 orang usia rentan (lansia atau anak) bergantung pada mereka.
Data lanjutan juga memperkirakan rasio ini akan terus meningkat dan mencapai sekitar 47,3% pada 2025 karena pertumbuhan populasi lansia dan masih tingginya kebutuhan dukungan keluarga. Angka ini akan terus meningkat di tahun 2026 jika budaya tersebut masih dipertahankan.
Ini menjadi indikator kuat bahwa semakin banyak orang usia kerja yang harus menanggung beban hidup dua generasi sekaligus.
Jumlah Sandwich Generation Diperkirakan Sangat Besar
Beberapa survei memperkirakan fenomena ini tidak sedikit:
- Survei Litbang Kompas mencatat bahwa sekitar 67% responden di Indonesia mengakui menjadi bagian dari generasi sandwich, diproyeksikan setara dengan 56 juta orang usia produktif yang menanggung tanggungan finansial ganda.
- Survei lain menyebut bahwa fenomena ini bahkan tersebar di banyak usia produktif, dari milenial sampai generasi X.
Artinya, fenomena ini bukan kasus “insidental”, tetapi menjadi bagian besar dari struktur demografi keluarga Indonesia.
Gen Z Juga Sudah Terkena Dampaknya
Menurut riset oleh DataIndonesia.id pada 2023, sekitar 46,3% Gen Z di Indonesia sudah termasuk generasi sandwich, yakni mereka yang menanggung kebutuhan hidup orang tua dan keluarga sambil membangun karier mereka sendiri.
Ciri-Ciri Jika Kamu Termasuk Sandwich Generation
Banyak orang tidak sadar bahwa mereka sudah masuk dalam kategori ini. Beberapa tanda yang umum terjadi adalah sebagai berikut:
- Sebagian gaji rutin dialokasikan untuk orang tua
- Menanggung biaya pendidikan atau kebutuhan saudara
- Tidak memiliki dana darurat pribadi
- Menunda investasi, menikah, atau membeli rumah
- Sering merasa bersalah ketika menggunakan uang untuk diri sendiri
Jika kamu merasa relate dengan beberapa poin di atas, kemungkinan besar kamu sedang menjalani fase ini.
Dampak Finansial Sandwich Generation

Menjadi sandwich generation bukan sesuatu yang salah. Membantu keluarga adalah hal yang mulia. Namun tanpa strategi yang jelas, dampaknya cukup berat secara finansial.
Sulit Membangun Dana Darurat
Idealnya, setiap orang memiliki dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran. Namun bagi sandwich generation, membangun dana darurat sering terasa mustahil.
Sebagai gambaran sederhana:
Gaji Rp4.000.000
Transfer ke orang tua Rp1.800.000
Kebutuhan pribadi Rp1.500.000
Sisa Rp700.000
Dari sisa tersebut, masih ada kebutuhan tidak terduga seperti biaya kesehatan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan sosial. Akibatnya, tabungan menjadi tidak konsisten, bahkan dalam beberapa bulan bisa tidak ada sama sekali.
Investasi Tertunda
Investasi membutuhkan konsistensi dan waktu. Semakin cepat dimulai, semakin besar hasilnya dalam jangka panjang.
Namun ketika cash flow Bulanan sudah ketat, investasi sering menjadi prioritas terakhir. Padahal penundaan investasi berarti kehilangan potensi pertumbuhan dana di masa depan.
Terjebak Gaji ke Gaji
Karena pengeluaran rutin cukup besar, kondisi finansial menjadi rapuh. Sedikit saja ada kebutuhan darurat, biaya kesehatan orang tua, misalnya keuangan langsung goyah. Risiko berutang pun meningkat. Ini bisa menjadi lingkarang yang sulit diputus.
Perencanaan Pensiun Terlambat
Ironisnya, banyak sandwich generation sedang menopang orang tua yang tidak memiliki dana pensiun, tetapi mereka sendiri belum mempersiapkan masa tua. Tanpa perencanaan, siklus ini berpotensi berulang pada generasi berikutnya.
Dampak Mental Health yang Sering Tidak Disadari

Financial Anxiety
Kecemasan soal uang menjadi pikiran harian. Takut kehilangan pekerjaan, takut ada kebutuhan mendadak, takut tidak mampu memenuhi ekspektasi keluarga. Financial anxiety bisa mengganggu kualitas tidur dan produktivitas kerja.
Emotionally Burnout
Menjadi “yang paling bisa diandalkan” dalam keluarga membuat banyak sandwich generation merasa tidak boleh mengeluh. Namun memendam tekanan terus-menerus bisa berujung pada kelelahan emosional.
Rasa Bersalah yang Konstan
Saat ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri, muncul rasa bersalah. Seolah-olah memprioritaskan diri sendiri adalah tindakan egois. Padahal menjaga diri sendiri adalah bagian dari keberlanjutan jangka panjang.
Overthinking Masa Depan
Pertanyaan seperti:
Kapan bisa punya rumah?
Apakah bisa menikah tanpa beban?
Bagaimana jika orang tua sakit lebih parah?
Semua ini menjadi tekanan mental yang tidak ringan.
Kenapa Fenomena Ini Semakin Banyak Terjadi?
Beberapa faktor yang memperkuat fenomena ini di Indonesia antara lain:
- Kurangnya dana pensiun formal
- Minimnya asuransi kesehatan pada generasi sebelumnya
- Biaya pendidikan dan kesehatan yang meningkat
- Gaji entry-level yang belum sebanding dengan inflasi
- Budaya kekeluargaan yang kuat
Kombinasi faktor ini membuat generasi produktif berada dalam tekanan ekonomi yang cukup kompleks.
Cara Mengatasi Sandwich Generation Tanpa Mengorbankan Mental Health
Tetapkan Batasan Finansial
Tentukan jumlah kontribusi setiap bulan. Jangan melebihi kapasitas hanya karena rasa tidak enak. Membantu keluarga bukan berarti mengorbankan masa depan sepenuhnya.
Pisahkan Rekening
Buat sistem yang jelas:
- Rekening kebutuhan pribadi
- Rekening kontribusi keluarga
- Rekening tabungan/investasi
Dengan sistem ini, kamu lebih mudah mengontrol arus uang.
Bangun Dana Darurat Bertahap
Mulai dari target kecil. Tidak harus langsung besar. Konsistensi lebih penting daripada nominal tinggi yang tidak realistis.
Komunikasi Terbuka
Diskusikan kondisi finansial dengan keluarga. Jelaskan bahwa kamu juga sedang membangun masa depan. Komunikasi adalah bentuk tanggung jawab, bukan pembangkangan.
Tingkatkan Penghasilan
Jika memungkinkan:
- Upgrade skill
- Ambil sertifikasi
- Cari side income
- Bangun personal branding
Meningkatkan pendapatan dapat memberikan ruang finansial yang lebih longgar.
Jaga Kesehatan Mental
Luangkan waktu untuk diri sendiri. Olahraga, journaling, atau konsultasi profesional bila diperlukan. Kesehatan mental adalah fondasi untuk bisa terus membantu keluarga dalam jangka panjang.
Apakah Sandwich Generation Bisa Memutus Siklus Ini?
Jawabannya bisa. Dengan literasi keuangan yang baik, perencanaan pensiun sejak dini, serta edukasi finansial untuk generasi berikutnya, siklus ini dapat dihentikan. Kamu tidak egois jika ingin memiliki tabungan, investasi, dan rencana pensiun. Justru itu cara agar beban tidak terus berpindah ke generasi setelahmu.
Kesimpulan
Sandwich generation adalah realitas yang dihadapi banyak karyawan Indonesia saat ini. Data menunjukkan rasio ketergantungan tinggi dan mayoritas usia kerja merasakan tekanan finansial keluarga.
Dampaknya bukan hanya pada angka di rekening, tetapi juga pada kesehatan mental. Namun dengan strategi yang tepat, batasan finansial, komunikasi, peningkatan income, dan perhatian pada mental health, kondisi ini bisa dikelola.
Membantu keluarga adalah hal mulia. Tapi menjaga masa depan diri sendiri juga sama pentingnya. Karena kamu bukan hanya tulang punggung hari ini, kamu juga arsitek untuk masa depan yang lebih stabil dan sehat.
Baca artikel seputar workplace behavior, seputar HR, dan aplikasi absensi Kerjoo lainnya hanya di Blog Kerjoo!