Pernah tidak, seorang karyawan masih ingat teguran dari atasan enam bulan lalu, tetapi sudah lupa dengan berbagai apresiasi yang diterimanya selama setahun?

Padahal, secara logika, pengalaman positif yang jumlahnya lebih banyak seharusnya lebih mudah dikenang. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu.

Satu komentar yang membuat malu saat rapat. Satu kali diperlakukan tidak adil. Satu kejadian ketika hasil kerja tidak dihargai. Hal-hal seperti ini dapat terus muncul kembali dalam ingatan, bahkan ketika masalahnya sebenarnya sudah selesai.

Fenomena tersebut bukan sekadar karyawan yang terlalu sensitif atau suka mengingat hal buruk. Ada penjelasan psikologis di balik cara manusia memproses pengalaman negatif.

Baca artikel ini sampai selesai untuk memahami kenapa pengalaman buruk bisa meninggalkan jejak yang lebih kuat, bagaimana pengaruhnya terhadap pengalaman karyawan, dan apa yang bisa dilakukan HR untuk mencegah satu kejadian buruk merusak persepsi karyawan terhadap perusahaan.

Fenomena Psikologis: Otak Memang Lebih Waspada terhadap Hal Negatif

Dalam psikologi, terdapat konsep yang dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk memberikan perhatian atau bobot lebih besar terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif.

Menurut American Psychological Association (APA), negativity bias berkaitan dengan kecenderungan aspek negatif memainkan peran lebih besar dalam membentuk kesan dan penilaian seseorang.

Sederhananya, otak manusia memang memiliki alasan untuk lebih waspada terhadap sesuatu yang dianggap buruk.

Bayangkan manusia pada masa lalu harus memilih antara dua situasi: menemukan makanan atau melihat sesuatu yang berpotensi membahayakan. Mengabaikan makanan mungkin membuat seseorang kehilangan kesempatan makan. Namun, mengabaikan ancaman bisa memiliki konsekuensi jauh lebih serius.

Pola kewaspadaan tersebut masih terlihat dalam kehidupan modern.

Bedanya, ancaman yang dihadapi karyawan saat ini bukan lagi predator di alam liar. Bentuknya bisa berupa konflik dengan atasan, ketidakjelasan pekerjaan, perlakuan tidak adil, komentar yang merendahkan, atau rasa tidak dihargai.

Itulah mengapa satu pengalaman yang membuat seseorang merasa terancam secara emosional dapat mendapatkan perhatian lebih besar daripada beberapa pengalaman menyenangkan yang terjadi setelahnya.

Pengalaman negatif terasa lebih “berisik”

Ada hal menarik lainnya.

Pengalaman positif biasanya terasa menyenangkan ketika terjadi. Namun, setelah beberapa waktu, intensitas emosinya dapat menurun. Sebaliknya, pengalaman negatif tertentu dapat terus terasa relevan karena otak menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu dipelajari atau diwaspadai.

Penelitian yang dirangkum APA mengenai memori emosional menunjukkan bahwa manusia dapat memiliki kecenderungan untuk mengingat pengalaman negatif, meskipun dampak emosional negatif tersebut dapat berubah seiring waktu.

Artinya, bukan berarti semua hal buruk akan selamanya menghantui karyawan.

Namun, pengalaman yang dianggap penting secara emosional bisa meninggalkan jejak yang lebih kuat.

Kenapa Pengalaman Buruk Lebih Mudah Diingat Karyawan?

Kalau dibawa ke lingkungan kerja, ada beberapa alasan mengapa kejadian negatif bisa terasa jauh lebih membekas.

1. Emosi membuat pengalaman terasa lebih penting

Bayangkan seorang karyawan menerima pujian dari atasannya.

“Kerja bagus.”

Senang? Tentu.

Tetapi beberapa minggu kemudian, kemungkinan besar kalimat tersebut sudah tidak terlalu sering muncul di pikirannya.

Sekarang bandingkan dengan komentar yang membuatnya merasa dipermalukan di depan rekan kerja.

“Kenapa hal seperti ini saja tidak bisa dikerjakan?”

Kalimat tersebut mungkin terus teringat ketika ia menghadapi pekerjaan serupa.

Perbedaannya ada pada intensitas emosi.

Semakin kuat respons emosional terhadap sebuah peristiwa, semakin besar kemungkinan pengalaman tersebut dianggap penting oleh pikiran.

2. Pengalaman negatif dapat menjadi “alarm”

Salah satu fakta psikologi tentang pengalaman karyawan yang menarik adalah bahwa ingatan tidak hanya berfungsi untuk mengingat masa lalu.

Ingatan juga membantu manusia menentukan tindakan di masa depan.

Jika seorang karyawan pernah mendapatkan respons negatif ketika menyampaikan pendapat, pengalaman tersebut dapat membuatnya lebih berhati-hati pada kesempatan berikutnya.

Bukan karena ia tidak punya ide.

Bisa jadi karena otaknya sudah belajar bahwa berbicara dalam situasi tertentu terasa tidak aman.

Di sinilah pengalaman buruk mulai memengaruhi perilaku kerja.

3. Kejadian yang tidak biasa lebih mudah menonjol

Rutinitas kantor biasanya berjalan dengan pola yang relatif sama.

Masuk kerja, mengerjakan tugas, rapat, berdiskusi, menyelesaikan pekerjaan, lalu pulang.

Ketika tiba-tiba terjadi sesuatu yang sangat berbeda dari rutinitas tersebut, perhatian otomatis meningkat.

Misalnya, seorang karyawan yang selama berbulan-bulan bekerja dengan baik tiba-tiba ditegur keras di depan tim.

Kejadian itu menjadi distinctive event atau peristiwa yang menonjol dibandingkan aktivitas sehari-hari.

Karena berbeda dari biasanya, detailnya lebih mudah mendapatkan perhatian.

Dalam pembahasan mengenai memori negatif, perhatian terhadap rangsangan negatif menjadi salah satu mekanisme yang dapat membuat pengalaman tersebut lebih kuat tersimpan dalam ingatan.

Dari Satu Kejadian Berujung ke Employee Experience

Masalahnya, pengalaman buruk di kantor tidak selalu berhenti sebagai satu kejadian.

Satu pengalaman bisa memengaruhi cara karyawan melihat pengalaman berikutnya.

Misalnya, seorang karyawan pernah mengajukan ide dalam rapat dan mendapatkan respons yang meremehkan.

Setelah itu, ia mulai lebih sering diam.

Kemudian, ketika ada rapat berikutnya, ia kembali memilih tidak berbicara.

Lama-kelamaan, perilaku tersebut dapat terlihat seperti karyawan yang kurang aktif atau tidak punya inisiatif.

Padahal, akar masalahnya mungkin bukan kurangnya motivasi.

Ada pengalaman sebelumnya yang membuatnya memilih untuk lebih berhati-hati.

Inilah alasan mengapa employee experience tidak hanya terbentuk dari kebijakan besar perusahaan. Pengalaman sehari-hari, interaksi dengan atasan, proses komunikasi, hingga cara perusahaan menangani masalah juga ikut membentuk persepsi karyawan.

Dan persepsi tersebut tidak selalu terbentuk dari rata-rata pengalaman.

Satu kejadian yang sangat buruk dapat memiliki bobot psikologis yang jauh lebih besar daripada beberapa pengalaman biasa yang berjalan tanpa masalah.

Dampaknya Bisa Lebih Panjang dari yang Diperkirakan

Ketika pengalaman negatif terus memengaruhi cara karyawan memandang tempat kerja, efeknya dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Mulai dari berkurangnya keberanian menyampaikan pendapat, menurunnya kepercayaan kepada atasan, hingga meningkatnya keinginan mencari tempat kerja lain.

Bukan berarti setiap karyawan yang mengalami pengalaman buruk pasti akan resign.

Namun, HR perlu memahami bahwa pengalaman negatif dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan karyawan yang memengaruhi persepsi mereka terhadap perusahaan.

Data Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 menunjukkan bahwa pada 2025 hanya 20% karyawan di dunia yang tergolong engaged. Pada tahun yang sama, 23% karyawan global melaporkan mengalami banyak kesedihan pada hari sebelumnya.

Angka tersebut tentu tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh masalah disebabkan pengalaman buruk di tempat kerja.

Namun, datanya menunjukkan satu hal penting: kondisi emosional karyawan merupakan bagian yang serius dalam kehidupan kerja dan layak diperhatikan organisasi.

Apa Artinya untuk HR?

Memahami psikologi memori bukan berarti HR harus membuat kantor menjadi tempat yang selalu menyenangkan.

Itu tidak realistis.

Konflik tetap akan terjadi. Kritik tetap diperlukan. Target tetap harus dicapai. Bahkan, keputusan yang tidak disukai karyawan terkadang memang harus diambil.

Yang penting adalah bagaimana pengalaman tersebut dikelola.

Jangan hanya mengejar pengalaman positif

Perusahaan sering berusaha menciptakan pengalaman menyenangkan melalui kegiatan team building, apresiasi, hadiah, atau acara internal.

Hal tersebut tentu baik.

Tetapi pengalaman positif tidak seharusnya digunakan untuk “menutupi” masalah yang belum diselesaikan.

Karyawan mungkin mendapatkan acara kantor yang menyenangkan setiap bulan.

Namun, jika setiap hari mereka menghadapi komunikasi yang buruk dari atasan, sistem kerja yang membingungkan, atau proses administrasi yang merepotkan, persepsi mereka terhadap perusahaan tetap dapat negatif.

HR perlu melihat pengalaman karyawan secara lebih menyeluruh.

Perhatikan momen yang berpotensi meninggalkan kesan

Tidak semua interaksi memiliki bobot emosional yang sama.

Beberapa momen perlu mendapat perhatian ekstra, seperti:

Momen Hal yang Perlu Diperhatikan
Hari pertama kerja Apakah karyawan merasa diterima dan memahami ekspektasi pekerjaannya?
Evaluasi kinerja Apakah kritik disampaikan secara jelas dan tetap menghargai karyawan?
Konflik Apakah semua pihak mendapat ruang yang cukup untuk menjelaskan situasi?
Kesalahan kerja Apakah perusahaan fokus mencari solusi atau justru sekadar mencari pihak yang disalahkan?
Pengajuan izin/cuti Apakah prosesnya jelas, mudah, dan transparan bagi karyawan?
Perubahan kebijakan Apakah alasan perubahan dikomunikasikan dengan jelas dan mudah dipahami?
Resign Apakah perusahaan tetap memperlakukan karyawan secara profesional hingga hari terakhir?

Momen-momen tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun, bagi karyawan yang mengalaminya secara langsung, dampaknya bisa jauh lebih besar.

Sistem Kerja Juga Membentuk Pengalaman Karyawan

Menariknya, pengalaman karyawan tidak hanya dipengaruhi hubungan antarmanusia.

Sistem kerja yang rumit juga dapat menciptakan friction atau hambatan dalam keseharian.

Bayangkan karyawan harus berulang kali mengisi data yang sama, HR harus mencari data kehadiran dari berbagai sumber, atau proses persetujuan masih dilakukan melalui pesan pribadi.

Awalnya mungkin terasa sepele.

Namun, jika terjadi terus-menerus, rasa lelah dan frustrasi bisa terakumulasi.

Karena itu, perusahaan dapat mulai mengevaluasi bagian-bagian pekerjaan yang sebenarnya bisa dibuat lebih sederhana.

Misalnya, proses administrasi kehadiran dapat dibuat lebih terstruktur menggunakan aplikasi absensi online yang membantu pencatatan, pemantauan, serta pengelolaan data karyawan secara lebih praktis.

Bagi HR, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat pekerjaan terlihat modern.

Tujuannya adalah mengurangi hambatan yang tidak perlu sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan yang memang membutuhkan energi dan kemampuan mereka.

HRIS Bisa Bantu? Simak Caranya!

Digitalisasi HR juga sering dipahami hanya sebagai penggantian sistem manual menjadi sistem digital.

Padahal, manfaatnya bisa lebih luas.

Ketika data karyawan lebih terorganisasi, proses administrasi lebih transparan, dan informasi lebih mudah diakses oleh pihak yang berwenang, pengalaman kerja dapat menjadi lebih sederhana.

Konsep HRIS misalnya, dapat membantu perusahaan mengelola berbagai informasi dan proses HR dalam sistem yang lebih terintegrasi.

Namun, teknologi tetap bukan solusi tunggal.

Sistem yang canggih tidak akan banyak membantu jika komunikasi buruk, kebijakan tidak jelas, atau masalah karyawan tidak pernah benar-benar didengarkan.

Teknologi seharusnya menjadi pendukung.

Manusia tetap menjadi pusatnya.

Bagaimana HR Bisa Mencegah Pengalaman Buruk Menjadi Masalah Besar?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan HR.

STEP FOKUS HR PERTANYAAN KUNCI TINDAKAN YANG BISA DILAKUKAN
01
Dengarkan lebih awal

Jangan menunggu survei tahunan untuk mengetahui kondisi karyawan.

“Apa yang sedang dirasakan karyawan saat ini?”
“Apakah ada masalah kecil yang mulai berulang?”
Gunakan pulse survey, sesi one-on-one, forum diskusi, atau kanal feedback secara berkala agar HR dapat menangkap masalah sebelum berkembang.
02
Cari pola, bukan sekadar keluhan

Satu keluhan belum tentu menunjukkan masalah sistemik.

“Apakah masalah yang sama dialami banyak karyawan?”
“Seberapa sering masalah ini muncul?”
Kelompokkan feedback berdasarkan tema, frekuensi, dan dampaknya. Jika keluhan yang sama muncul berulang kali, anggap sebagai sinyal untuk melakukan evaluasi lebih lanjut.
03
Tutup loop feedback

Feedback yang tidak memiliki tindak lanjut dapat membuat karyawan kehilangan kepercayaan.

“Apa yang sudah dilakukan perusahaan?”
“Jika belum bisa diselesaikan, apakah alasannya sudah dijelaskan?”
Komunikasikan hasil evaluasi dan langkah berikutnya. Tidak semua masukan harus langsung diterapkan, tetapi karyawan perlu tahu bahwa feedback mereka benar-benar dipertimbangkan.
04
Lihat dari sudut pandang karyawan

Evaluasi pengalaman kerja dari perspektif orang yang menjalani prosesnya setiap hari.

“Kalau saya menjadi karyawan baru, bagian mana yang paling membingungkan?”
“Di titik mana karyawan paling mungkin merasa tidak didengar?”
“Proses apa yang paling sering membuat pekerjaan harus diulang?”
Petakan perjalanan karyawan dari awal bergabung hingga menjalankan pekerjaan sehari-hari. Tandai titik yang berpotensi menimbulkan kebingungan, friksi, atau pengalaman buruk.

Intinya: HR tidak harus menunggu masalah menjadi besar untuk mulai bertindak. Semakin cepat sinyal dari karyawan dikenali, semakin besar peluang perusahaan memperbaiki pengalaman kerja sebelum berdampak pada engagement, produktivitas, atau retensi.

Jangan Sampai Satu Momen Menentukan Seluruh Cerita

Pada akhirnya, perusahaan tidak mungkin membuat setiap hari kerja berjalan sempurna.

Akan selalu ada salah paham, target yang tidak tercapai, kritik, perubahan kebijakan, atau keputusan yang tidak menyenangkan.

Yang perlu dijaga adalah bagaimana perusahaan merespons ketika hal tersebut terjadi.

Sebab, karyawan mungkin tidak mengingat setiap rapat yang pernah mereka ikuti.

Mereka juga mungkin tidak mengingat setiap pesan yang dikirim HR.

Tetapi mereka sangat mungkin mengingat bagaimana perasaan mereka ketika sedang berada dalam situasi penting.

Merasa dihargai.

Merasa didengar.

Merasa diperlakukan adil.

Atau justru sebaliknya.

Dan kumpulan momen itulah yang perlahan membentuk employee experience.

Kesimpulan

Pengalaman buruk di tempat kerja memang dapat meninggalkan kesan yang kuat. Salah satu penjelasannya adalah negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberikan perhatian lebih besar terhadap hal-hal negatif.

Pengalaman yang kuat secara emosional juga dapat menjadi semacam “alarm” yang memengaruhi cara seseorang mengingat dan menghadapi situasi serupa di masa depan.

Bagi HR, memahami alasan pengalaman buruk lebih mudah diingat karyawan di tempat kerja bukan berarti harus membuat kantor bebas dari konflik atau kritik.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa ketika masalah terjadi, karyawan tetap diperlakukan dengan adil, dihargai, dan didengarkan.

Perusahaan juga bisa mulai dari hal-hal yang lebih praktis. Kurangi proses yang merepotkan, buat administrasi lebih transparan, dan gunakan sistem yang membantu HR maupun karyawan menjalani pekerjaan sehari-hari dengan lebih mudah.

Salah satu upayanya dapat dilakukan melalui sistem dari Kerjoo yang membantu perusahaan mengelola kebutuhan administrasi dan proses kerja karyawan secara lebih terstruktur.

Karena pada akhirnya, pengalaman kerja yang baik bukan dibangun dari satu acara besar atau satu program HR yang viral. Ia terbentuk dari ratusan momen kecil yang dirasakan karyawan setiap hari.

Kalau Anda ingin memahami lebih banyak tentang dunia kerja, HR, dan bagaimana pengalaman karyawan bisa dibangun dengan lebih baik, baca juga artikel lainnya di blog kami untuk mendapatkan insight yang relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini.

Referensi

American Psychological Association. Trait Negativity Bias. https://dictionary.apa.org/trait-negativity-bias

American Psychological Association. Memory and Happiness. https://www.apa.org/news/press/releases/2003/06/happy-memory

American Psychological Association. Attentional Bias. https://dictionary.apa.org/attentional-bias

Gallup. State of the Global Workplace 2026. https://www.gallup.com/workplace/697904/state-of-the-global-workplace-global-data.aspx

National Library of Medicine. Aging and Emotional Memory. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19140656/