Pernah nggak sih kamu merasa, di satu tim kerja ada orang yang super rapi dan terstruktur, sementara yang lain baru on fire saat deadline tinggal hitungan jam? Ada yang betah meeting lama-lama, ada juga yang rasanya ingin kabur lima menit setelah meeting dimulai.

Jika pernah, tenang, itu bukan karena kamu kurang profesional. Bisa jadi, kalian memang punya cara kerja yang berbeda secara natural. Di sinilah MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator, sering masuk ke obrolan dunia kerja.

MBTI bukan lagi sekadar tes kepribadian iseng di media sosial. Banyak perusahaan, HR, bahkan tim kecil mulai memakainya untuk memahami dinamika kerja, komunikasi, dan kolaborasi tim. Karena faktanya, dunia kerja hari ini bukan hanya soal skill, tetapi juga soal bagaimana manusia bekerja sama dengan manusia lain. 

Sebelum lanjut lebih jauh, yuk luangkan waktu sebentar buat mengenali cara kerjamu sendiri. Siapa tahu, setelah ini kamu jadi lebih paham kenapa kamu kerja paling optimal dengan caramu sendiri dan kenapa orang lain juga begitu.

Kenapa Cara Kerja di Kantor Bisa Berbeda-beda?

Secara umum, kantor sering menuntut satu standar kerja yang ideal. Datang tepat waktu, responsif, rapi, komunikatif, dan produktif. Tetapi masalahnya, manusia bukan mesin. Setiap orang membawa karakter, kebiasaan, dan pola pikir masing-masing ke tempat kerja. 

Di sinilah konsep tipe kepribadian karyawan jadi relevan. Cara seseorang menyerap informasi, mengambil keputusan, mengatur waktu, sampai merespons tekanan kerja sangat dipengaruhi oleh kepribadiannya.

Berikut beberapa karakteristik yang dimiliki oleh karyawan:

  • Lebih fokus saat kerja sendirian
  • Lebih hidup saat diskusi tim
  • Butuh struktur dan SOP yang jelas
  • Kreatif saat ruang kerjanya fleksibel

Perbedaan ini sering menjadi sumber salah paham di kantor. Karyawan yang rapi dianggap kaku dan karyawan yang santai dianggap tidak serius. Padahal, semuanya bisa sama-sama produktif dengan caranya masing-masing.

Apa Itu MBTI?

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) adalah kerangka untuk memahami kecenderungan kepribadian seseorang berdasarkan cara berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Di dunia kerja, MBTI sering digunakan bukan untuk menilai pintar atau tidak, tetapi untuk membaca pola kerja alami seseorang.

Itulah salah satu alasan kenapa MBTI sering dipakai di dunia kerja, karena membantu perusahaan dan karyawan saling memahami tanpa asumsi berlebihan. MBTI membagi kepribadian berdasarkan empat dimensi utama yang membentuk 16 tipe kepribadian.

Dalam konteks profesional, MBTI sering dikaitkan dengan tipe kepribadian karyawan agar perusahaan bisa menciptakan lingkungan kerja yang tidak kaku dan lebih adaptif.

Empat Dimensi MBTI yang Memengaruhi Cara Kerja

Sebelum masuk ke 16 tipe, penting untuk memahami empat dimensi dasarnya sebagai berikut:

  1. Introvert (I) vs Extrovert (E)

Dimensi ini berkaitan dengan energi saat bekerja.

  • Introvert cenderung fokus, reflektif, dan nyaman bekerja mandiri
  • Extrovert cenderung aktif, komunikatif, dan berkembang lewat interaksi
  1. Sensing (S) vs Intuition (N)

Dimensi ini berkaitan dengan cara memproses informasi.

  • Sensing fokus pada fakta, data, dan detail
  • Intuition melihat gambaran besar dan kemungkinan ke depan
  1. Thinking (T) vs Feeling (F)

Dimensi ini memengaruhi cara mengambil keputusan.

  • Thinking mengutamakan logika dan objektivitas
  • Feeling mempertimbangkan dampak emosional dan relasi
  1. Judging (J) vs Perceiving (P)

Dimensi ini berkaitan dengan gaya mengatur pekerjaan.

  • Judging suka rencana, struktur, dan deadline jelas
  • Perceiving lebih fleksibel, adaptif dan spontan

Jenis-Jenis MBTI dan Karakteristik Singkatnya

Dari empat dimensi tersebut, terbentuklah 16 tipe MBTI. Dalam dunia kerja, masing-masing punya kecenderungan unik:

  • ISTJ / ESTJ: Terstruktur, konsisten, kuat di sistem dan operasional
  • ISFJ / ESFJ: Supportive, detail-oriented, dan menjaga keharmonian tim
  • INFJ / ENFJ: Visioner, empatik, cocok di peran leadership dan people development
  • INTJ / ENTJ: Strategis, tegas, fokus pada target jangka panjang
  • ISTP / ESTP: Praktis, cepat tanggap, kuat di situasi dinamis
  • ISFP / ESFP: Fleksibel, adaptif, membawa energi positif ke tim
  • INFP / ENFP: Kreatif, idealis, kuat di ide dan komunikasi
  • INTP / ENTP: Analitis, penuh ide, kuat dalam problem solving dan brainstorming

Setiap tipe punya potensi menjadi tipe kepribadian yang produktif di tempat kerja, asalkan lingkungan dan sistem kerjanya mendukung.

Kenapa MBTI Sering Dipakai di Dunia Kerja?

Pertanyaan ini cukup sering muncul terutama dari karyawan yang merasa MBTI “terlalu mengkotakkan”. Tetapi faktanya, kenapa MBTI sering dipakai di dunia kerja bukan untuk memberi label, melainkan untuk membantu pemahaman.

MBTI membantu perusahaan melihat pola, bukan menilai benar atau salah. Dengan memahami kecenderungan kepribadian, HR dan manajer dapat membuat strategi, antara lain:

  • Menyusun tim yang lebih seimbang
  • Mengatur komunikasi internal dengan lebih efektif
  • Mengurangi konflik yang sebenarnya tidak perlu
  • Meningkatkan kenyamanan dan produktivitas kerja

Di banyak organisasi modern, MBTI sering dipakai sebagai alat bantu diskusi, bukan alat seleksi mutlak. Artinya, hasilnya bukan vonis, tetapi sebagai bahan refleksi.

Masalah di Kantor yang Sering Terjadi karena Berbeda Kepribadian

Salah Paham dalam Komunikasi

Ada orang yang suka to the point, ada yang butuh konteks panjang. Saat dua gaya ini bertemu tanpa saling paham, potensi konflik menjadi besar.

Ekspektasi Kerja yang Tidak Selaras

Manajer berharap semua orang kerja dengan cara yang sama. Padahal, tidak semua orang cocok dengan gaya kerja yang bukan tipenya.

Produktif, tetapi Dianggap “Aneh”

Beberapa karyawan justru produktif di jam tertentu, atau dengan cara kerja yang tidak konvensional. Sayangnya, ini sering dianggap menyimpang dari “budaya kerja normal”.

Masalah-masalah ini bukan karena individu karyawan yang bermasalah, tetapi karena sistem kerja belum cukup fleksibel untuk mengakomodasi perbedaan.

Apa Hubungan MBTI dan Produktivitas?

Dalam konteks kerja, MBTI sering dipakai untuk memetakan kecenderungan energi, cara berpikir, dan gaya pengambilan keputusan. Ini sangat berkaitan dengan tipe kepribadian yang produktif di tempat kerja.

Produktif bukan berarti semua orang harus:

  • Multitasking
  • Selalu aktif bicara
  • Selalu cepat merespon

Produktif yang sesungguhnya berarti:

  • Pekerjaan selesai dengan kualitas baik
  • Proses kerja minim stres berlebihan
  • Kolaborasi berjalan sehat

Saat perusahaan memahami hal ini, standar produktivitas pun jadi lebih manusiawi.

Tips Kerja Efektif Berdasarkan MBTI

Berikut beberapa tips kerja efektif sesuai tipe MBTI yang bisa diterapkan tanpa harus mengubah kepribadianmu.

Kenali Pola Energi Kerjamu

Ada orang yang fokus di pagi hari, ada yang justru maksimal sore atau malam. Menyesuaikan tugas dengan jam produktif dapat berdampak besar.

Sesuaikan Cara Komunikasi

Jika kamu lebih nyaman tertulis, manfaatkan email atau chat. Jika verbal lebih efektif, diskusi langsung bisa menjadi solusi.

Buat Sistem yang Membantu, Bukan Membatasi

Tools kerja seharusnya mendukung berbagai gaya kerja, bukan memaksakan satu cara saja. Misalnya, sistem absensi yang fleksibel untuk tim hybrid atau remote.

Di sinilah aplikasi absensi online seperti Kerjoo sering dipakai perusahaan modern. Bukan sekedar mencatat kehadiran, tetapi membantu HR memahami pola kerja karyawan tanpa harus micromanaging.

Jangan Samakan Semua Orang

Satu SOP bisa punya banyak pendekatan eksekusi. Memberi ruang adaptasi sering kali justru meningkatkan hasil.

Peran HR dalam Mengelola Perbedaan Kepribadian

HR punya peran penting sebagai jembatan antara sistem dan manusia. Dengan memahami tipe kepribadian karyawan, HR bisa melakukan aksi sebagai berikut:

  • Menyusun kebijakan kerja yang lebih fleksibel
  • Membaca data kehadiran dan performa dengan konteks
  • Mengurangi turnover karena kelelahan mental

Penggunaan teknologi HR, termasuk tools seperti Kerjoo, dapat membantu HR melihat pola kerja harian tanpa menghakimi. Data menjadi alat bantu keputusan, bukan alat kontrol berlebihan.

Kerja Hybrid dan Remote dengan MBTI

Model kerja hybrid dan remote membuat perbedaan kepribadian makin terasa. Ada yang thrive tanpa pengawasan langsung, ada juga yang butuh struktur jelas.

Pendekatan berbasis MBTI membantu perusahaan dalam:

  • Menentukan ritme clock-in yang pas
  • Menyesuaikan target kerja
  • Menghindari budaya “online tapi burnout

Dengan sistem yang tepat, perbedaan ini bukan hambatan, melainkan kekuatan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, memahami MBTI dan perbedaan cara kerja hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem kerja di kantor bisa mengakomodasi semua tipe kepribadian, tanpa membuat HR kewalahan atau karyawan merasa diawasi berlebihan.

Di sinilah peran tools kerja jadi krusial. Dengan aplikasi absensi dan manajemen karyawan, perusahaan bisa memantau kehadiran dan ritme kerja karyawan secara objektif, tanpa harus mengorbankan fleksibilitas. Data hadir bukan untuk menghakimi, tapi untuk membantu HR dan manajemen mengambil keputusan yang lebih manusiawi dan relevan dengan cara kerja tim saat ini.

Karena kerja efektif bukan soal memaksa semua orang sama, tapi menyediakan sistem yang bisa mengikuti cara kerja mereka. Jika kamu ingin membangun budaya kerja yang rapi, fleksibel, dan tetap produktif, mungkin sekarang saatnya mengenal Kerjoo lebih dekat!