Pernah merasa jumlah karyawan terus bertambah, tetapi masalah HR juga ikut bertambah?

Turnover naik, absensi mulai tidak stabil, proses rekrutmen terasa lama, performa beberapa tim menurun, sementara kebutuhan tenaga kerja terus berubah.

Kalau hanya mengandalkan intuisi, HR bisa saja punya dugaan tentang penyebabnya. Namun, dugaan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.

Di sinilah data mulai punya peran penting.

Baca artikel ini sampai selesai untuk memahami bagaimana HR dapat membaca data karyawan, menentukan metrik yang relevan, sampai mengubah data tersebut menjadi insight yang bisa membantu pengambilan keputusan.

Apa Itu HR Analytics?

Secara sederhana, HR analytics adalah proses mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data yang berkaitan dengan tenaga kerja untuk menemukan pola atau insight yang dapat membantu perusahaan mengambil keputusan.

CIPD menjelaskan people analytics sebagai aktivitas menganalisis data mengenai orang untuk menyelesaikan masalah bisnis. Data tersebut dapat berasal dari sistem HR, sistem teknologi informasi, maupun sumber lain di dalam organisasi.

Jadi, pekerjaan ini bukan sekadar membuat laporan berisi jumlah karyawan bulan ini atau menghitung berapa orang yang resign.

Lebih dari itu, HR perlu bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik angka ini?”

Misalnya, laporan menunjukkan bahwa tingkat turnover meningkat. Angka tersebut baru menjadi informasi dasar. HR kemudian dapat menggali lebih jauh:

  • Apakah turnover paling tinggi terjadi pada karyawan baru?
  • Departemen mana yang memiliki turnover terbesar?
  • Apakah ada pola berdasarkan masa kerja?
  • Apakah karyawan yang resign memiliki tingkat lembur yang tinggi?
  • Bagaimana hubungan turnover dengan hasil survei kepuasan karyawan?
  • Apakah terdapat perubahan setelah kebijakan tertentu diterapkan?

Pertanyaan seperti inilah yang membuat data menjadi lebih bernilai.

Menurut CIPD, analisis data tenaga kerja dapat digunakan untuk memahami persoalan bisnis, mendukung keputusan berbasis bukti, serta membantu organisasi menilai dampak berbagai inisiatif terkait karyawan.

Artinya, HR tidak harus selalu datang ke manajemen dengan kalimat, “Sepertinya masalahnya ada di sini.”

Dengan data yang tepat, pembahasannya bisa berubah menjadi, “Berdasarkan data tiga bulan terakhir, pola ini paling banyak muncul pada kelompok tersebut.”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya cukup besar.

Mengapa HR Perlu Mulai Mengandalkan Data?

Dunia kerja bergerak cepat. Kebutuhan tenaga kerja berubah, keterampilan yang dibutuhkan ikut berkembang, dan perusahaan dituntut mengambil keputusan dengan lebih responsif.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 mencatat bahwa perusahaan memperkirakan sekitar 39% keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030.

Laporan yang sama menunjukkan 50% tenaga kerja yang disurvei telah mengikuti pelatihan sebagai bagian dari strategi pembelajaran dan pengembangan, meningkat dari 41% pada 2023.

Data tersebut menunjukkan satu hal penting: kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja tidak bersifat statis.

HR perlu mengetahui kondisi tenaga kerja saat ini sekaligus membaca kemungkinan kebutuhan di masa depan.

Tanpa data, proses tersebut lebih mudah berubah menjadi asumsi.

Bukan berarti pengalaman HR tidak penting. Justru pengalaman, pengetahuan profesional, hasil riset, dan masukan dari pihak yang terdampak tetap perlu dipertimbangkan bersama data organisasi.

CIPD menyebut pendekatan berbasis bukti menggabungkan beberapa sumber informasi agar keputusan tidak hanya bergantung pada keyakinan, kebiasaan, atau solusi yang sedang populer.

Dengan kata lain, data bukan pengganti human judgment.

Data adalah salah satu bahan penting agar human judgment memiliki dasar yang lebih kuat.

Jenis Data Karyawan yang Perlu Dipantau HR

Tidak semua data harus dianalisis sekaligus. Justru, terlalu banyak angka tanpa tujuan dapat membuat HR kewalahan.

Mulailah dari data yang berhubungan langsung dengan masalah atau tujuan bisnis.

1. Data Headcount

Headcount menunjukkan jumlah tenaga kerja yang dimiliki perusahaan dalam periode tertentu.

Namun, jangan berhenti pada pertanyaan “berapa jumlah karyawan?”

HR dapat melihat data tersebut berdasarkan:

  • Departemen.
  • Posisi.
  • Lokasi kerja.
  • Status kepegawaian.
  • Masa kerja.
  • Penambahan dan pengurangan karyawan.
  • Rasio karyawan terhadap kebutuhan operasional.

Data headcount dapat membantu HR melihat apakah distribusi tenaga kerja sudah sesuai kebutuhan.

Misalnya, sebuah departemen mengalami pertumbuhan pekerjaan yang cukup besar, tetapi jumlah karyawannya tidak bertambah selama beberapa periode.

Situasi tersebut bisa menjadi sinyal untuk mengevaluasi beban kerja atau kebutuhan rekrutmen.

2. Data Turnover

Turnover merupakan salah satu metrik yang sering diperhatikan HR karena berkaitan dengan keberlangsungan tenaga kerja.

Namun, angka turnover sebaiknya tidak dibaca sendirian.

HR perlu melihat siapa yang keluar, kapan mereka keluar, dari divisi mana, serta bagaimana karakteristik kelompok tersebut.

Contohnya, turnover perusahaan mungkin terlihat normal secara keseluruhan. Namun setelah diperiksa, ternyata sebagian besar karyawan yang keluar merupakan karyawan dengan masa kerja kurang dari satu tahun.

Temuannya berubah.

Masalahnya mungkin bukan sekadar “banyak karyawan resign”, tetapi ada kemungkinan proses onboarding, ekspektasi pekerjaan, hubungan dengan atasan, atau pengalaman awal karyawan perlu dievaluasi.

3. Data Rekrutmen

Proses rekrutmen menghasilkan banyak data yang dapat digunakan HR.

Beberapa di antaranya adalah:

  • Jumlah pelamar.
  • Sumber kandidat.
  • Jumlah kandidat yang lolos setiap tahap.
  • Time to hire.
  • Time to fill.
  • Biaya rekrutmen.
  • Tingkat penerimaan tawaran kerja.
  • Retensi karyawan baru.

Data tersebut dapat membantu HR menemukan bagian proses rekrutmen yang mengalami hambatan.

Jika banyak kandidat berhenti di tahap tertentu, misalnya, HR dapat mengevaluasi apakah proses seleksi terlalu panjang, komunikasi kurang jelas, atau persyaratan posisi kurang sesuai dengan pasar tenaga kerja.

4. Data Absensi dan Kehadiran

Kehadiran juga menghasilkan informasi yang cukup berguna.

HR dapat memantau pola keterlambatan, ketidakhadiran, izin, cuti, hingga lembur.

Bukan untuk mencari-cari kesalahan karyawan, melainkan untuk memahami pola kerja.

Misalnya, keterlambatan ternyata lebih sering terjadi pada hari tertentu atau pada kelompok kerja tertentu.

Temuan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat apakah ada persoalan jadwal, transportasi, pola kerja, atau kebutuhan operasional yang belum sesuai.

Pengelolaan data kehadiran juga menjadi lebih praktis ketika perusahaan menggunakan absensi online yang dapat membantu pencatatan secara lebih terstruktur.

Namun, HR tetap perlu memperhatikan konteks. Data kehadiran tidak otomatis menjelaskan alasan di balik perilaku seseorang.

5. Data Performa

Data performa dapat membantu HR dan manajer melihat perkembangan karyawan secara lebih objektif.

Contohnya meliputi pencapaian target, progres key performance indicator (KPI), hasil evaluasi, penyelesaian tugas, maupun hasil check-in antara manajer dan karyawan.

SHRM menjelaskan bahwa teknologi HR dapat membantu memantau indikator seperti perkembangan target, KPI, frekuensi check-in, serta penyelesaian proses evaluasi dan percakapan pengembangan.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan menjadikan satu angka sebagai representasi penuh dari performa seseorang.

Angka tetap perlu dibaca bersama konteks pekerjaan, tanggung jawab, kondisi tim, dan kualitas hasil kerja.

6. Data Pelatihan dan Pengembangan

HR juga dapat melihat apakah program pelatihan benar-benar menjawab kebutuhan organisasi.

Beberapa data yang bisa dipantau antara lain:

  • Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan.
  • Tingkat penyelesaian pelatihan.
  • Jenis keterampilan yang dipelajari.
  • Hasil evaluasi pelatihan.
  • Perubahan performa setelah pelatihan.
  • Kesenjangan keterampilan.

Data ini semakin penting ketika perusahaan menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan.

Sebagai contoh, apabila perusahaan menemukan bahwa kemampuan tertentu semakin dibutuhkan, HR dapat membandingkan kebutuhan tersebut dengan keterampilan yang sudah dimiliki karyawan.

Dari sana, keputusan mengenai upskilling, reskilling, rekrutmen, atau pengembangan karier dapat dibuat dengan dasar yang lebih jelas.

Data HR yang Penting untuk Dianalisis Perusahaan

Setelah data terkumpul, tantangan berikutnya adalah menentukan mana yang benar-benar penting.

Tidak semua metrik harus dimasukkan ke dasbor.

Fokuslah pada data yang bisa membantu menjawab pertanyaan bisnis.

Tujuan HR Data yang Dapat Dipantau Pertanyaan yang Bisa Dijawab
Menjaga tenaga kerja
Headcount Turnover Masa kerja Di mana kebutuhan tenaga kerja paling besar?
Memperbaiki rekrutmen
Jumlah kandidat Time to hire Sumber kandidat Bagian mana dari rekrutmen yang paling lambat?
Meningkatkan kehadiran
Absensi Keterlambatan Izin Cuti Apakah terdapat pola kehadiran tertentu?
Meningkatkan performa
KPI Target Evaluasi Tim atau proses mana yang membutuhkan dukungan?
Mengembangkan karyawan
Pelatihan Keterampilan Hasil evaluasi Keterampilan apa yang perlu diperkuat?
Menjaga pengalaman karyawan
Survei Keluhan Engagement Faktor apa yang paling sering muncul dalam pengalaman karyawan?
Tip: Pilih data yang benar-benar berkaitan dengan tujuan HR agar proses analisis tetap fokus dan mudah ditindaklanjuti.

Dengan cara ini, HR tidak sekadar memiliki banyak data.

HR memiliki data yang relevan dengan pertanyaan yang sedang ingin dijawab.

Dari Data Menjadi Insight: Jangan Berhenti di Angka

Ini bagian yang sering terlewat.

Data bukanlah insight.

Misalnya, HR mengetahui bahwa tingkat keterlambatan karyawan mencapai 8%.

Angka tersebut belum memberi tahu apa yang harus dilakukan.

HR perlu mencari pola, membandingkan periode, melihat kelompok yang terdampak, kemudian menghubungkannya dengan kondisi lain.

Contohnya:

Data: keterlambatan meningkat.

Analisis: kenaikan paling banyak terjadi pada shift pagi.

Konteks: sebagian besar karyawan shift tersebut memiliki lokasi kerja yang jauh dari kantor.

Insight: terdapat kemungkinan persoalan operasional pada pengaturan shift atau waktu masuk.

Tindakan: perusahaan mengevaluasi jadwal dan kebutuhan operasional.

Alurnya menjadi:

01
Data
02
Analisis
03
Insight
04
Keputusan
05
Evaluasi
Alur pengambilan keputusan berbasis data dari awal hingga evaluasi.

Bukan:

01
Data
Kumpulkan informasi
02
Laporan
Susun dan sajikan hasil
Selesai
Laporan siap digunakan

Inilah perbedaan antara sekadar mengumpulkan laporan dengan menggunakan data sebagai bahan pengambilan keputusan.

Contoh HR Analytics dan Data Karyawan yang Dapat Digunakan untuk Mengambil Keputusan

Bayangkan perusahaan mengalami peningkatan resign selama enam bulan terakhir.

Daripada langsung menyimpulkan bahwa karyawan keluar karena gaji, HR dapat menggabungkan beberapa sumber data.

Misalnya, HR melihat:

  • Data turnover.
  • Masa kerja karyawan yang resign.
  • Departemen.
  • Jabatan.
  • Data lembur.
  • Hasil survei karyawan.
  • Data absensi.
  • Riwayat promosi.
  • Data kompensasi.

Setelah dibandingkan, ternyata mayoritas karyawan yang resign memiliki masa kerja kurang dari dua tahun dan berasal dari kelompok dengan frekuensi lembur tinggi.

Temuan tersebut belum otomatis membuktikan bahwa lembur adalah penyebab resign.

Namun, pola tersebut cukup kuat untuk menjadi alasan melakukan investigasi lebih lanjut.

HR kemudian dapat melakukan wawancara keluar, berdiskusi dengan manajer terkait, atau melakukan survei tambahan.

Dari sinilah keputusan dapat dibuat secara lebih hati-hati.

CIPD juga menekankan bahwa people analytics dapat menggunakan pendekatan seperti analisis deskriptif, prediktif, hingga preskriptif. Artinya, analisis dapat berkembang dari memahami apa yang sudah terjadi menuju memperkirakan kemungkinan yang terjadi dan mempertimbangkan tindakan yang dapat dilakukan.

Bagaimana HR Menggunakan Insight untuk Mengambil Keputusan?

Agar analisis tidak berhenti sebagai laporan bulanan, HR dapat menggunakan beberapa langkah berikut.

1. Mulai dari Pertanyaan Bisnis

Jangan mulai dengan pertanyaan, “Data apa yang kita punya?”

Mulailah dengan:

“Masalah apa yang ingin kita pahami?”

Misalnya:

  • Mengapa turnover meningkat?
  • Mengapa proses rekrutmen terlalu lama?
  • Mengapa absensi di divisi tertentu tidak stabil?
  • Apakah pelatihan memberikan perubahan?
  • Apakah distribusi tenaga kerja sudah sesuai kebutuhan?

Pertanyaan yang jelas akan membuat proses analisis jauh lebih terarah.

2. Pilih Data yang Relevan

Setelah masalah ditentukan, pilih data yang memang berkaitan.

Tidak perlu mengumpulkan semua informasi sekaligus.

Jika masalahnya turnover, misalnya, data yang relevan dapat mencakup masa kerja, posisi, departemen, kompensasi, lembur, performa, dan hasil survei karyawan.

3. Cari Pola, Bukan Sekadar Angka

Bandingkan data berdasarkan waktu, kelompok, lokasi, jabatan, atau departemen.

Pola sering kali tersembunyi ketika semua data hanya dilihat sebagai angka total.

Contohnya, turnover 10% secara keseluruhan mungkin terlihat biasa saja.

Tetapi jika satu departemen memiliki turnover 25%, situasinya tentu perlu dilihat lebih jauh.

4. Hubungkan dengan Data Bisnis

Data HR akan semakin bernilai ketika dikaitkan dengan kebutuhan bisnis.

Misalnya, data tenaga kerja dapat dibandingkan dengan produktivitas, biaya tenaga kerja, target penjualan, kualitas layanan, atau pencapaian operasional.

Dengan begitu, HR dapat menjelaskan hubungan antara kondisi tenaga kerja dan kebutuhan organisasi secara lebih konkret.

5. Uji dan Evaluasi Keputusan

Keputusan yang dibuat dari data tetap perlu dievaluasi.

Jika perusahaan mengubah jadwal kerja untuk mengurangi keterlambatan, HR dapat melihat kembali data setelah kebijakan diterapkan.

Apakah keterlambatan turun?

Apakah ada dampak terhadap produktivitas?

Apakah karyawan memberikan respons positif?

Kalau tidak ada perubahan, mungkin solusinya perlu disesuaikan.

Jadi, analisis data bukan pekerjaan sekali jadi.

Ini merupakan proses berulang.

Teknologi Membantu HR Mengelola Data dengan Lebih Rapi

Semakin banyak karyawan, semakin sulit mengandalkan spreadsheet yang tersebar di berbagai file.

Data kehadiran berada di satu tempat. Data karyawan ada di tempat lain. Data performa tersimpan di dokumen berbeda. Akhirnya, HR menghabiskan waktu hanya untuk menyatukan informasi sebelum bisa mulai menganalisisnya.

Sistem HRIS dapat membantu perusahaan mengelola informasi terkait karyawan secara lebih terstruktur dalam satu ekosistem.

Namun, teknologi bukan tujuan akhirnya.

Yang lebih penting adalah bagaimana data tersebut digunakan untuk menjawab persoalan organisasi.

Misalnya, data kehadiran yang tersusun rapi dapat membantu HR melihat pola absensi. Data karyawan dapat membantu melihat perubahan headcount. Data terkait proses kerja dapat menjadi bahan evaluasi kebutuhan tenaga kerja.

Di sinilah teknologi dan kemampuan analisis HR saling melengkapi.

Data yang rapi membuat analisis lebih mudah. Analisis yang tepat membantu HR mengambil keputusan dengan lebih terarah.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menggunakan Data Karyawan

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: data karyawan bukan sekadar angka.

Di balik setiap baris data terdapat manusia.

CIPD mengingatkan bahwa data karyawan dapat mengandung informasi pribadi yang dilindungi oleh hukum. Karena itu, pengumpulan dan pemrosesannya harus memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Selain aspek hukum, transparansi juga penting.

Karyawan perlu memahami data apa yang dikumpulkan, untuk tujuan apa data digunakan, dan bagaimana data tersebut dikelola.

CIPD juga menekankan pentingnya transparansi ketika organisasi melakukan pemantauan terhadap tenaga kerja, termasuk menjelaskan alasan dan tujuan pemantauan kepada karyawan.

Jangan sampai semangat menjadi perusahaan yang data-driven justru berubah menjadi kebiasaan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya tanpa tujuan yang jelas.

Gunakan data seperlunya.

Jaga keamanannya.

Dan yang paling penting, gunakan data untuk membantu membuat keputusan yang lebih baik, bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, HR tidak harus menjadi ahli statistik untuk mulai menggunakan data.

Yang lebih penting adalah memiliki rasa ingin tahu terhadap angka dan berani bertanya lebih jauh.

Kenapa turnover naik? Kenapa absensi berubah? Kenapa proses rekrutmen melambat? Kenapa performa tim tertentu berbeda? Data dapat membantu HR menemukan arah untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Mulailah dari data yang paling dekat dengan pekerjaan Anda: headcount, turnover, rekrutmen, kehadiran, performa, hingga pengembangan karyawan.

Setelah itu, jangan berhenti di laporan.

Cari polanya, pahami konteksnya, hubungkan dengan kebutuhan bisnis, lalu gunakan insight tersebut sebagai bahan untuk mengambil keputusan.

Kalau pengelolaan data karyawan masih terasa tersebar dan merepotkan, Anda juga bisa mulai mempertimbangkan sistem yang membantu pencatatan serta pengelolaan informasi tenaga kerja secara lebih terstruktur. Kerjoo dapat menjadi salah satu opsi yang membantu perusahaan mengelola kebutuhan HR secara lebih praktis dan terintegrasi.

Pada akhirnya, menjadi data-driven bukan berarti semua keputusan harus dibuat oleh angka.

Justru, data membantu HR melihat situasi dengan lebih jelas sebelum menentukan langkah.

Kalau Anda ingin memahami lebih banyak insight seputar dunia kerja, HR, dan pengelolaan karyawan, baca artikel lainnya di blog Kerjoo dan temukan pembahasan yang relevan untuk membantu Anda bekerja dengan sistem HR yang semakin modern.

Referensi

Chartered Institute of Personnel and Development. (2025). People analytics. CIPD. https://prod.cipd.org/uk/knowledge/factsheets/analytics-factsheet/

Chartered Institute of Personnel and Development. (2026). Evidence-based practice for effective decision-making. CIPD. https://prod.cipd.org/en/knowledge/factsheets/evidence-based-practice-factsheet/

Chartered Institute of Personnel and Development. (2024). People analytics: Guide for people professionals. CIPD. https://prod.cipd.org/en/knowledge/guides/analytics-practitioner-guide/

Society for Human Resource Management. (2026). Understanding HR technology and the value for business transformation. SHRM. https://www.shrm.org/topics-tools/workplace/understanding-hr-technology-value-business-transformation

World Economic Forum. (2025). The future of jobs report 2025. World Economic Forum. https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/