Pernahkah Anda merasa heran mengapa ada perusahaan yang menawarkan gaji kompetitif, fasilitas lengkap, bahkan jenjang karier yang jelas, tetapi tetap kesulitan mempertahankan karyawan terbaiknya?
Jika iya, bisa jadi penyebabnya bukan berasal dari sistem perusahaan, melainkan dari cara seorang pemimpin memimpin timnya.
Faktanya, banyak karyawan memilih mengundurkan diri bukan karena pekerjaannya terlalu sulit, tetapi karena hubungan mereka dengan atasan tidak berjalan dengan baik. Kalimat "people don't leave companies, they leave managers" mungkin sudah sering terdengar, tetapi hingga saat ini masih sangat relevan.
Data dari Gallup's State of the Global Workplace 2025 menunjukkan bahwa keterlibatan (employee engagement) karyawan secara global kembali menurun menjadi sekitar 21%, sementara rendahnya kualitas manajemen menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produktivitas sekaligus loyalitas karyawan. Gallup juga memperkirakan penurunan keterlibatan tersebut menyebabkan kerugian ekonomi global hingga US$438 miliar setiap tahunnya.
Temuan serupa juga disampaikan oleh McKinsey & Company yang menjelaskan bahwa hubungan antara atasan dan anggota tim menjadi salah satu faktor terpenting dalam menciptakan pengalaman kerja yang positif. Ketika seorang pemimpin gagal membangun kepercayaan, komunikasi, dan rasa aman di lingkungan kerja, risiko keluarnya talenta terbaik akan meningkat secara signifikan.
Artinya, tantangan terbesar perusahaan saat ini bukan hanya mencari kandidat baru, tetapi juga menjaga agar karyawan terbaik tetap bertahan. Di sinilah pentingnya memahami konsep employee retention, yaitu strategi perusahaan dalam mempertahankan karyawan berkinerja tinggi agar tetap loyal, produktif, dan berkembang bersama organisasi.
Sebelum lanjut membaca, pastikan Anda menyimak artikel ini sampai selesai. Di bagian akhir nanti, Anda akan menemukan langkah-langkah praktis yang bisa langsung diterapkan untuk meningkatkan employee retention tanpa harus selalu mengandalkan kenaikan gaji atau bonus besar.
Apa Itu Employee Retention dan Mengapa Penting?
Secara sederhana, employee retention adalah kemampuan perusahaan untuk mempertahankan karyawan dalam jangka waktu yang panjang. Semakin tinggi tingkat retensi, semakin kecil kemungkinan perusahaan kehilangan talenta terbaik akibat turnover.
Banyak pemilik bisnis mengira retensi hanya dipengaruhi oleh besarnya gaji. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman bekerja sehari-hari jauh lebih menentukan keputusan seseorang untuk tetap bertahan.
Laporan Work Institute Retention Report bahkan menyebutkan bahwa sebagian besar penyebab karyawan mengundurkan diri sebenarnya masih dapat dicegah (preventable turnover). Faktor-faktor seperti kepemimpinan, komunikasi, kesempatan berkembang, hingga budaya kerja menjadi alasan yang jauh lebih dominan dibanding sekadar nominal kompensasi.
Bagi perusahaan, rendahnya employee retention bukan hanya berdampak pada tingginya biaya rekrutmen. Ketika satu karyawan keluar, perusahaan juga kehilangan pengalaman, pengetahuan, relasi dengan pelanggan, hingga produktivitas tim yang sudah dibangun selama bertahun-tahun.
Belum lagi proses mencari pengganti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Mulai dari memasang lowongan, melakukan seleksi, proses wawancara, pelatihan, hingga adaptasi karyawan baru yang bisa berlangsung selama beberapa bulan.
Karena itu, menjaga retensi bukan lagi sekadar tugas divisi HR. Business owner dan para leader juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa dihargai dan ingin bertahan.
Sayangnya, banyak pemimpin justru memiliki kebiasaan yang terlihat sepele, tetapi tanpa disadari menjadi penyebab utama turunnya loyalitas tim.
5 Kebiasaan Leader yang Tanpa Sadar Membuat Tim Tidak Betah

1. Terlalu Sering Mengontrol Hal-Hal Kecil (Micromanaging)
Salah satu kebiasaan pemimpin yang membuat karyawan tidak betah adalah terlalu sering mengawasi setiap detail pekerjaan anggota tim.
Awalnya mungkin terlihat seperti bentuk kepedulian. Namun, ketika seorang leader terus-menerus memeriksa setiap pekerjaan, meminta laporan setiap jam, mengoreksi hal-hal kecil, hingga sulit memberikan kepercayaan kepada tim, situasinya berubah menjadi micromanagement.
Karyawan yang mengalami kondisi ini biasanya akan merasa tidak dipercaya.
Mereka mulai berpikir bahwa apa pun yang dikerjakan selalu dianggap kurang baik. Lama-kelamaan motivasi bekerja menurun karena setiap ide harus menunggu persetujuan atasan.
Menurut penelitian Harvard Business Review, praktik micromanagement berkaitan dengan meningkatnya stres kerja, menurunnya kreativitas, serta rendahnya kepuasan kerja. Padahal, kreativitas merupakan salah satu modal utama perusahaan untuk terus berinovasi.
Bagi generasi muda yang kini mendominasi dunia kerja, rasa percaya menjadi salah satu bentuk apresiasi terbesar. Mereka ingin diberi ruang untuk belajar, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Jika leader terlalu mengontrol semuanya, anggota tim akan kehilangan rasa memiliki terhadap pekerjaannya.
Dampaknya terhadap employee retention
Ketika karyawan merasa setiap langkahnya diawasi secara berlebihan, mereka cenderung hanya bekerja sekadar memenuhi kewajiban. Mereka tidak lagi memiliki inisiatif untuk memberikan ide baru maupun berkontribusi lebih.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor kepemimpinan yang mendorong turnover, terutama pada karyawan berpotensi tinggi yang menginginkan ruang berkembang.
Solusinya bukan berarti leader harus melepas semua kontrol, melainkan memberikan kepercayaan yang seimbang. Tetapkan target yang jelas, lakukan evaluasi secara berkala, lalu biarkan anggota tim menentukan cara terbaik untuk mencapai hasil tersebut.
2. Memberikan Kritik, tetapi Jarang Memberikan Apresiasi
Bayangkan Anda sudah bekerja keras menyelesaikan proyek selama berminggu-minggu. Target tercapai, klien puas, bahkan hasilnya melebihi ekspektasi.
Namun, respons yang Anda terima dari atasan hanya satu kalimat:
"Masih ada yang perlu diperbaiki."
Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pengakuan atas usaha tim. Tidak ada apresiasi sekecil apa pun.
Situasi seperti ini ternyata lebih sering terjadi daripada yang dibayangkan.
Banyak leader beranggapan bahwa memberikan apresiasi akan membuat karyawan cepat puas atau kehilangan semangat berkembang. Padahal, berbagai penelitian justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Laporan Workhuman & Gallup menemukan bahwa karyawan yang mendapatkan pengakuan secara rutin memiliki tingkat keterlibatan kerja yang jauh lebih tinggi, lebih produktif, dan memiliki kecenderungan lebih kecil untuk mencari pekerjaan baru.
Apresiasi juga tidak selalu berbentuk bonus atau kenaikan gaji.
Ucapan sederhana seperti "Terima kasih atas kerja keras Anda", "Presentasinya sangat membantu", atau "Ide Anda berhasil menyelesaikan masalah tim" sudah mampu meningkatkan rasa dihargai.
Sebaliknya, jika leader hanya muncul ketika ada kesalahan, karyawan akan mulai merasa bahwa apa pun yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik.
Perasaan tersebut perlahan mengikis motivasi, rasa percaya diri, hingga loyalitas terhadap perusahaan.
Pada akhirnya, bukan pekerjaan yang membuat mereka lelah, melainkan lingkungan kerja yang minim penghargaan.
Inilah alasan mengapa budaya apresiasi menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun employee retention yang kuat. Ketika seseorang merasa usahanya diakui, mereka cenderung memiliki keterikatan emosional yang lebih tinggi terhadap perusahaan dan tim tempat mereka bekerja.
3. Sulit Mendengarkan Masukan dari Tim
Seorang leader memang memiliki tanggung jawab untuk mengambil keputusan. Namun, bukan berarti semua keputusan harus selalu berasal dari dirinya sendiri.
Salah satu kebiasaan pemimpin yang membuat karyawan tidak betah adalah merasa paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain.
Biasanya, kebiasaan ini terlihat dari hal-hal sederhana, seperti sering memotong pembicaraan saat rapat, menolak ide baru tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu, atau menganggap kritik dari anggota tim sebagai bentuk perlawanan.
Padahal, lingkungan kerja yang sehat justru dibangun dari komunikasi dua arah. Karyawan ingin merasa bahwa pendapat mereka didengar, meskipun pada akhirnya tidak semua usulan bisa diterapkan.
Konsep ini dikenal sebagai psychological safety, yaitu kondisi ketika seseorang merasa aman untuk menyampaikan pendapat, bertanya, atau bahkan mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan maupun mendapat konsekuensi negatif.
Penelitian dari Google Project Aristotle menemukan bahwa psychological safety merupakan faktor paling penting dalam membangun tim dengan performa tinggi. Sementara itu, riset McKinsey & Company juga menunjukkan bahwa karyawan yang merasa didengarkan cenderung memiliki tingkat keterlibatan (engagement) yang lebih tinggi serta lebih loyal terhadap perusahaan.
Sebaliknya, ketika seorang leader menutup ruang diskusi, anggota tim akan mulai memilih diam. Mereka enggan menyampaikan ide, tidak berani memberikan masukan, bahkan memilih mengikuti arahan tanpa benar-benar terlibat.
Sekilas kondisi ini terlihat "aman" karena konflik berkurang. Namun, sebenarnya perusahaan sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu inovasi.
Ide-ide terbaik sering kali lahir dari orang-orang yang setiap hari menghadapi pelanggan, menjalankan proses operasional, atau menyelesaikan pekerjaan teknis. Jika suara mereka tidak pernah didengar, perusahaan kehilangan banyak peluang untuk berkembang.
Dampaknya terhadap employee retention
Lingkungan kerja yang tidak memberikan ruang untuk berbicara membuat karyawan merasa keberadaan mereka tidak berarti.
Akibatnya, mereka hanya datang untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan untuk berkembang bersama perusahaan. Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini menjadi salah satu faktor kepemimpinan yang mendorong turnover, terutama pada karyawan yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan semangat berinovasi.
Leader dapat mulai memperbaiki kondisi ini dengan membiasakan sesi one-on-one meeting, membuka forum diskusi secara rutin, serta benar-benar mendengarkan masukan tanpa langsung memberikan penilaian. Bahkan ketika ide tersebut tidak bisa diterapkan, jelaskan alasannya secara terbuka agar anggota tim tetap merasa dihargai.
Membangun Tim yang Bertahan Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Leader
Gaya kepemimpinan memang memiliki pengaruh besar terhadap loyalitas karyawan. Namun, pengalaman kerja yang positif juga dibentuk oleh sistem perusahaan yang mendukung komunikasi, transparansi, dan pengelolaan SDM yang rapi.
Di sinilah teknologi mulai memainkan peran penting. Misalnya, penggunaan aplikasi absensi online yang terintegrasi dapat membantu HR maupun leader memantau kehadiran, keterlambatan, hingga data kerja secara lebih objektif. Dengan begitu, evaluasi kinerja tidak lagi didasarkan pada asumsi atau kedekatan personal, melainkan pada data yang akurat.
Kerjoo hadir sebagai solusi HRIS yang membantu perusahaan mengelola kehadiran, cuti, lembur, payroll, hingga berbagai proses administrasi SDM dalam satu platform. Ketika proses administratif menjadi lebih efisien, leader pun memiliki lebih banyak waktu untuk fokus membangun hubungan yang sehat dengan timnya.
4. Tidak Konsisten antara Perkataan dan Tindakan
Tidak ada yang lebih cepat menghilangkan kepercayaan selain pemimpin yang mengatakan satu hal, tetapi melakukan hal yang berbeda.
Misalnya, leader meminta seluruh tim datang tepat waktu, tetapi dirinya sendiri sering terlambat ke kantor.
Atau, perusahaan terus mengampanyekan pentingnya work-life balance, tetapi atasan justru sering menghubungi karyawan di luar jam kerja dan berharap pesan tersebut segera dibalas.
Ketidakkonsistenan seperti ini mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi anggota tim, hal tersebut menjadi sinyal bahwa aturan hanya berlaku untuk bawahan, bukan untuk pemimpin.
Menurut Edelman Trust Barometer, kepercayaan merupakan salah satu fondasi utama dalam hubungan profesional. Ketika rasa percaya mulai hilang, motivasi, kolaborasi, hingga komitmen terhadap perusahaan ikut menurun.
Seorang leader tidak harus menjadi sosok yang sempurna. Namun, mereka perlu menjadi teladan yang mampu menunjukkan bahwa nilai-nilai perusahaan benar-benar diterapkan dalam keseharian.
Jika perusahaan mengutamakan integritas, maka integritas harus terlihat dari perilaku para pemimpinnya.
Jika perusahaan menjunjung transparansi, maka leader juga perlu terbuka dalam mengambil keputusan.
Karyawan akan lebih mudah mengikuti contoh nyata dibanding sekadar mendengarkan slogan motivasi.
Dampaknya terhadap employee retention
Ketika kepercayaan terhadap pemimpin mulai berkurang, hubungan kerja menjadi semakin renggang.
Karyawan akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, enggan terbuka mengenai kendala yang dihadapi, bahkan mulai mempertimbangkan peluang kerja di tempat lain yang dianggap memiliki budaya organisasi lebih sehat.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan perusahaan karena tim kehilangan figur yang mampu menjadi panutan.
5. Fokus pada Hasil, tetapi Melupakan Perkembangan Karyawan
Target bisnis memang penting.
Namun, target bukan satu-satunya indikator keberhasilan seorang leader.
Masih banyak pemimpin yang hanya memperhatikan angka penjualan, pencapaian proyek, atau Key Performance Indicator (KPI) tanpa benar-benar memikirkan bagaimana anggota tim berkembang selama proses tersebut.
Misalnya, ketika proyek selesai dengan baik, pembahasan evaluasi hanya berfokus pada hasil akhir.
Tidak ada diskusi mengenai keterampilan baru yang berhasil dipelajari, tantangan yang dihadapi anggota tim, ataupun peluang pengembangan karier ke depan.
Padahal, generasi pekerja saat ini tidak hanya mencari pekerjaan yang stabil.
Mereka juga ingin terus belajar, mendapatkan pengalaman baru, dan melihat adanya masa depan yang jelas di perusahaan.
Laporan LinkedIn Workplace Learning Report menunjukkan bahwa kesempatan belajar dan berkembang menjadi salah satu alasan utama seseorang bertahan di sebuah organisasi. Karyawan cenderung lebih loyal ketika perusahaan berinvestasi pada peningkatan kompetensi mereka.
Leader yang baik memahami bahwa keberhasilan bisnis akan mengikuti ketika orang-orang di dalamnya terus berkembang.
Oleh karena itu, selain memberikan target, pemimpin juga perlu menyediakan ruang belajar, pelatihan, coaching, hingga kesempatan untuk mencoba tantangan baru.
Dampaknya terhadap employee retention
Ketika karyawan merasa kariernya berhenti di tempat, motivasi kerja akan menurun secara perlahan.
Mereka mulai melihat perusahaan lain sebagai tempat yang menawarkan peluang belajar lebih besar, meskipun kompensasinya belum tentu jauh berbeda.
Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa banyak talenta terbaik memilih resign bukan karena tidak menyukai pekerjaannya, melainkan karena merasa tidak lagi memiliki ruang untuk berkembang.
Perusahaan yang ingin meningkatkan employee retention perlu mulai memandang pengembangan karyawan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar biaya pelatihan. Leader yang mampu membantu anggota tim tumbuh akan lebih mudah membangun loyalitas, menciptakan budaya kerja yang positif, dan mempertahankan talenta terbaik di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Cara Memperbaiki Gaya Kepemimpinan agar Tim Lebih Betah dan Loyal

Kabar baiknya, kebiasaan-kebiasaan di atas bukan sesuatu yang permanen. Kepemimpinan bukanlah bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, melainkan keterampilan yang bisa terus dipelajari dan dikembangkan.
Bagi business owner maupun leader, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru sering kali memberikan dampak besar terhadap budaya kerja dan tingkat employee retention.
Berikut beberapa langkah yang bisa mulai Anda terapkan.
1. Jadikan komunikasi dua arah sebagai budaya
Jangan hanya mengadakan rapat untuk menyampaikan informasi dari atasan kepada bawahan. Sisihkan waktu untuk benar-benar mendengarkan pendapat anggota tim.
Misalnya, lakukan sesi one-on-one meeting setiap satu atau dua minggu sekali. Gunakan kesempatan tersebut untuk membahas hambatan pekerjaan, target pengembangan, hingga aspirasi karier karyawan.
Ketika karyawan merasa didengar, mereka akan lebih nyaman menyampaikan ide maupun permasalahan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
2. Berikan apresiasi secara spesifik dan konsisten
Apresiasi yang efektif bukan sekadar mengatakan, "Kerja bagus."
Sampaikan secara spesifik hal apa yang Anda hargai.
Contohnya:
- "Terima kasih sudah menyelesaikan laporan lebih cepat dari target. Itu sangat membantu proses pengambilan keputusan."
- "Presentasi Anda tadi membuat klien lebih mudah memahami solusi yang kita tawarkan."
Apresiasi yang jelas membuat karyawan memahami perilaku positif apa yang perlu dipertahankan.
Budaya menghargai juga akan menular ke seluruh anggota tim sehingga lingkungan kerja terasa lebih positif.
3. Bangun kepercayaan, bukan pengawasan berlebihan
Leader tidak harus mengetahui setiap detail pekerjaan bawahannya.
Sebaliknya, fokuslah pada tujuan, hasil, dan proses evaluasi yang sehat.
Berikan kebebasan kepada anggota tim untuk menentukan cara terbaik menyelesaikan pekerjaannya selama tetap sesuai dengan target yang telah disepakati.
Pendekatan seperti ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab sekaligus mendorong kreativitas.
4. Jadilah contoh sebelum menjadi pemberi arahan
Budaya perusahaan selalu dimulai dari atas.
Jika leader ingin tim disiplin, maka leader juga harus menunjukkan kedisiplinan.
Jika perusahaan menjunjung transparansi, maka pemimpin juga perlu terbuka terhadap alasan di balik setiap keputusan penting.
Karyawan akan lebih mudah mempercayai pemimpin yang konsisten antara ucapan dan tindakan dibanding pemimpin yang hanya memberikan instruksi.
5. Gunakan data untuk mendukung keputusan, bukan asumsi
Salah satu penyebab munculnya konflik antara leader dan karyawan adalah keputusan yang didasarkan pada persepsi.
Misalnya, menganggap seseorang kurang disiplin hanya karena sering datang terlambat, padahal data menunjukkan ia justru paling sering lembur dan memiliki produktivitas tinggi.
Karena itu, perusahaan perlu mulai memanfaatkan sistem yang mampu menyediakan data secara objektif.
Penggunaan sistem absensi online misalnya, dapat membantu perusahaan memperoleh data kehadiran, jam kerja, keterlambatan, hingga lembur secara real-time. Dengan informasi yang lebih akurat, leader dapat melakukan evaluasi yang lebih adil dan transparan.
Tidak hanya meningkatkan kepercayaan karyawan, pendekatan berbasis data juga membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih tepat dalam pengelolaan SDM.
Mengapa Leadership Menjadi Kunci Masa Depan Bisnis?
Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan tidak lagi hanya bersaing memperebutkan pelanggan. Mereka juga bersaing mendapatkan dan mempertahankan talenta terbaik.
Laporan LinkedIn Global Talent Trends menunjukkan bahwa perusahaan dengan budaya kerja yang sehat memiliki peluang lebih besar mempertahankan karyawan dibanding perusahaan yang hanya mengandalkan kompensasi.
Sementara itu, riset Deloitte Human Capital Trends juga menyoroti bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada manusia (human-centered leadership) menjadi salah satu prioritas utama organisasi modern karena terbukti mampu meningkatkan produktivitas, kolaborasi, dan loyalitas karyawan.
Artinya, investasi terbesar perusahaan saat ini bukan hanya pada teknologi, melainkan juga pada kualitas para pemimpinnya.
Leader yang mampu membangun rasa percaya, memberikan ruang berkembang, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif akan lebih mudah mempertahankan talenta terbaik dalam jangka panjang.
Sebaliknya, jika perusahaan mengabaikan kualitas kepemimpinan, biaya yang harus dikeluarkan akibat tingginya turnover, proses rekrutmen berulang, hingga hilangnya produktivitas akan jauh lebih besar dibanding investasi untuk mengembangkan kemampuan para leader.
Kesimpulan
Karyawan tidak selalu resign karena gaji yang kurang kompetitif. Dalam banyak kasus, keputusan untuk keluar justru dipengaruhi oleh pengalaman mereka bekerja setiap hari bersama atasannya.
Mulai dari terlalu sering melakukan micromanaging, jarang memberikan apresiasi, tidak mau mendengarkan masukan, tidak konsisten antara ucapan dan tindakan, hingga mengabaikan perkembangan anggota tim, semuanya dapat memengaruhi employee retention secara signifikan.
Kabar baiknya, setiap kebiasaan tersebut bisa diperbaiki. Perubahan tidak harus dilakukan secara besar-besaran. Anda bisa memulainya dari komunikasi yang lebih terbuka, memberikan apresiasi secara konsisten, membangun kepercayaan kepada tim, hingga mengambil keputusan berdasarkan data, bukan asumsi.
Di sisi lain, perusahaan juga dapat mendukung para leader melalui sistem kerja yang lebih efisien dan transparan. Salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi absensi online seperti Kerjoo yang membantu pengelolaan kehadiran, cuti, lembur, payroll, serta administrasi SDM dalam satu platform. Dengan proses administratif yang lebih sederhana, leader dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk membangun hubungan yang sehat dengan tim dan mengembangkan potensi setiap karyawan.
Jika Anda ingin menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan lebih betah, produktif, dan loyal, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai membangun budaya kepemimpinan yang lebih baik sekaligus didukung teknologi yang tepat.
Jangan lewatkan juga berbagai artikel lainnya di blog Kerjoo yang membahas dunia HR, kepemimpinan, pengelolaan SDM, serta tren dunia kerja terkini agar bisnis Anda semakin siap menghadapi tantangan di masa depan.
Referensi
Harvard Business Review. (2024). Why Micromanagement Is So Harmful.https://hbr.org/
Google. (2016). Project Aristotle: Understanding Team Effectiveness.https://rework.withgoogle.com/
Workhuman & Gallup. (2022). From Praise to Profits: The Business Case for Recognition at Work.https://www.workhuman.com/resources/reports/from-praise-to-profits
Work Institute. (2024). 2024 Retention Report.https://workinstitute.com/retention-report/
LinkedIn Learning. (2024). Workplace Learning Report 2024.https://learning.linkedin.com/resources/workplace-learning-report
LinkedIn Talent Solutions. (2024). Global Talent Trends.https://business.linkedin.com/talent-solutions/resources/talent-strategy