Apa Itu Quiet Firing? Ketika Karyawan Dipecat Diam-diam

Quiet firing atau pemecatan diam-diam mendorong karyawan untuk resign dari pekerjaan

quiet firing
apa itu quiet firing

Daftar Isi

Beberapa waktu lalu, istilah quiet quitting menjadi sebuah tren yang populer di kalangan pengguna media sosial. Khususnya para pekerja muda, millennial dan generasi Z memiliki perhatian besar kepada work life balance. Selanjutnya, ada tren lain yang juga menarik perhatian yaitu quiet firing.

Apakah quiet firing adalah jawaban quiet quitting? Perlu diingat kembali bahwa quiet quitting sebenarnya tidak selalu berkaitan langsung tentang karyawan yang ingin resign dari pekerjaan. Akan tetapi, istilah ini merujuk pada sikap karyawan yang memerangi kelelahan di tempat kerja dan menetapkan batasan profesional.

Apa Itu Quiet Firing dan Mengapa Bisa Terjadi?

Secara harfiah, quiet firing berarti pemecatan diam-diam ketika perusahaan dengan sengaja mendorong karyawan untuk keluar dari pekerjaan.

Salah satu caranya adalah dengan memberi perlakuan tidak adil, memberi kritik keras atau tidak masuk akal, dan menumpuk beban kerja melebihi kapasitas. Hal tersebut berlangsung cukup lama yang akhirnya memaksa karyawan untuk berhenti.

Tidak diketahui sumber yang secara spesifik menyebut dari mana istilah quiet firing berasal dan siapa yang mencetuskan pertama kali.

Selain pemecatan diam-diam, istilah ini disebut juga sebagai pemecatan konstruktif, yang dilansir oleh The Hill, ini mengacu pada saat atasan memperlakukan karyawan dengan buruk untuk membuat mereka keluar dari pekerjaan dan menghindari PHK secara langsung.

Praktik pemecatan diam-diam bisa jadi terasa mengejutkan bagi karyawan yang mengalaminya. Strategi seperti ini dapat menyelamatkan perusahaan dari kewajiban memberi pesangon dan berbagai hal tentang administrasi seperti mengurus dokumen dan surat resmi.

Apalagi, percakapan pemutusan hubungan kerja yang seringkali memicu konflik, hal tersebut bisa dihindari.

Pemecatan diam-diam tidak selalu merupakan kesalahan karyawan, tapi ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan sistem perusahaan. Atau bahkan karena kepemimpinan yang lemah.

Menurut psikolog organisasi Ella F. Washington, seperti dilansir Fast Company, manajer seringkali tidak siap untuk memberi umpan balik, membahas tentang kinerja, dan tetap memberi harapan kepada tim.

Jika seorang karyawan tidak berkinerja sesuai harapan, alih-alih memecat pelan-pelan, disarankan untuk memberi mereka umpan balik. Setidaknya beri tahu mereka konsekuensi dari kinerja buruk yang berkelanjutan. Jika tidak ada titik temu, maka manajer baru akan mengeluarkan mereka.

Apa itu Quiet Firing
Tanda quiet firing

Apa Saja Tanda-tanda Terjadinya Quiet Firing?

Di bawah ini adalah tanda-tanda terjadinya quiet firing yang membuat karyawan harus mengambil langkah yang tepat untuk masa depan kariernya.

1. Terjadi Diskriminasi di Tempat Kerja

Diskriminasi di tempat kerja adalah sebuah masalah yang akan berdampak fatal. Alasannya ada beragam, misalnya karena usia, kondisi fisik, genetik, kewarganegaraan, agama, warna kulit, dan gender.

Seringkali situasi diskriminasi tidak lepas dari politik kantor yang kemudian membuat karyawan tidak ingin bertahan lebih lama di perusahaan dan memilih resign.

Bentuk diskriminasi tidak selalu menyangkut hal-hal yang tersebut di atas. Ada kalanya di suatu divisi mengadakan meeting atau diskusi tanpa melibatkan satu atau beberapa karyawan tertentu, yang seharusnya sama-sama berkepentingan.

Situasi tersebut bisa jadi tanda-tanda quiet firing yang membuat karyawan tidak memiliki engagement yang kuat.

2. Tidak Ada Promosi Jabatan

Situasi yang disebut quiet firing bisa terjadi pada orang-orang yang memenuhi syarat atau qualified di bidangnya. Tapi, dia tidak ditunjuk dalam promosi tanpa alasan yang spesifik.

Kalaupun ada promosi peningkatan jabatan, mereka ditempatkan pada posisi yang tidak memiliki ruang untuk kemajuan. Di kesempatan lain, mereka mungkin akan ditempatkan untuk bekerja dengan atasan yang hampir pensiun.

3. Tidak Memberi Kenaikan Gaji Selama Bertahun-tahun

Jika perusahaan menolak negosiasi gaji dan tidak ada upaya membayar sesuai kontribusi karyawan, maka hal itu termasuk 'tanda bahaya' atau red flag di pekerjaan.

Apalagi jika dalam waktu yang sama rekan kerja mendapatkan kenaikan gaji dan promosi, tapi tidak berlaku bagi karyawan lain yang juga bekerja lebih keras. Jika hal tersebut terjadi dan pihak kantor tidak menjelaskan mengapa, maka situasi seperti itu termasuk tanda-tanda quiet firing.

4. Mengubah Jobdesc Karyawan secara Mendadak

Sebenarnya perubahan adalah hal yang wajar terjadi pada berbagai situasi. Termasuk dalam hal ini adalah jobdesc yang berubah karena menyesuaikan dengan kondisi perusahaan yang dinamis.

Tapi, jika jobdesc berubah dengan beban kerja dan ekspektasi yang tidak realistis, maka situasinya tidak sama lagi. Bisa jadi ini adalah pertanda bahwa sebenarnya perusahaan merencanakan kebijakan yang mengarah ke pemecatan atau PHK. Apakah Anda pernah menemui secara langsung situasi seperti ini?

quiet firing
yang harus dilakukan saat quiet firing

Apa yang Harus Dilakukan Karyawan?

Karena banyak yang mengalami pemecatan diam-diam, pakar karir mendorong karyawan untuk lebih berani menyuarakan kebutuhan mereka.

Bukan hanya menjadi kepentingan individu karyawan, tapi juga dapat memperbaiki kepemimpinan dan partisipasi tim kerja mereka untuk menyikapi praktik tersebut.

Dengan langkah yang tepat, maka karyawan dan perusahaan sama-sama terpenuhi hak dan kewajibannya. Berikut ini adalah langkah yang harus diambil oleh karyawan untuk menghadapi pemecatan diam-diam.

1. Bicara dengan Manajer

Ketika karyawan merasa dipecat secara diam-diam, kemungkinan yang dilakukan adalah berkumpul dengan rekan yang mengalami kondisi yang sama. Atau justru segera mencari jalan keluar untuk melamar kerja di tempat lain.

Tapi, lebih disarankan untuk bicara dengan pimpinan di internal perusahaan terlebih dahulu. Hal ini dapat mendukung budaya kerja yang sehat dan menjaga reputasi perusahaan.

2. Tunjukkan Laporan Pekerjaan

Pastikan semua karyawan mencatat dengan terperinci tentang apa yang dikerjakan setiap hari. Kegiatan seperti ini tentunya sudah bukan menjadi masalah karena sudah banyak aplikasi yang mendukung laporan pekerjaan yang langsung dilihat HRD.

Agar lebih lengkap, sebaiknya cantumkan juga hal-hal yang membuat Anda merasa tidak dihargai, dikucilkan, atau mungkin tidak disukai di lingkungan kantor. Dengan demikian, Anda memiliki catatan bukti tentang apa yang terjadi. Anda kemudian dapat menunjukkan contoh spesifik ini ketika Anda siap untuk berbicara dengan manajer.

3. Jika Keadaan Tidak Berubah, Saatnya Mengambil Keputusan

Tidak menutup kemungkinan bahwa diskusi dengan manajer tidak menemukan jawaban. Bahkan, jika karyawan tidak memenuhi harapan, perusahaan bisa memberikan dukungan, bimbingan, atau pelatihan agar timnya bisa memberikan performa lebih baik.

Seharusnya tidak ada karyawan yang harus bertahan di perusahaan yang sudah tidak memberi apresiasi. Dengan kata lain, sudah waktunya mengambil keputusan untuk karier yang baru.

Melihat penjelasan di atas, sebenarnya quiet firing bukan hal baru. Hanya saja, tidak menutup kemungkinan kondisi ini terjadi pada perusahaan atau karyawan yang awalnya baik-baik saja. Akan lebih baik jika sejak awal mengantisipasi tentang langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Kesimpulan

Fenomena quiet firing terjadi pada perusahaan dengan kondisi tertentu yang terpaksa memecat karyawan secara diam-diam. Tidak sama dengan PHK, dalam hal ini karyawan akhirnya memilih untuk resign dari pekerjaan.

Apabila situasi masih memungkinkan untuk negosiasi dengan perusahaan, lebih baik melakukan negosiasi dengan manajer atau atasan. Akan tetapi, jika sudah tidak ada titik temu, sudah saatnya perusahaan melepas karyawan tersebut untuk mengambil peluang karir yang baru.

Beragam kondisi tentang SDM mungkin saja berubah seiring waktu karena banyak faktor yang terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana Anda memberikan respons yang terbaik.

Selagi ada kesempatan untuk mendukung karyawan lebih mandiri dan produktif, maka manajemen perusahaan juga seharusnya melakukan yang terbaik. Seperti contohnya adalah menerapkan aplikasi HR yang memungkinkan administrasi HR lebih simple dan efisien. Kerjoo hadir untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Anda terkait absensi online karyawan.

bg ads

Aplikasi Absensi Online

Gratis Trial 14 Hari