Pernah merasa proses rekrutmen sudah berjalan lancar, kandidat terlihat antusias, bahkan berhasil melewati masa percobaan, tetapi tiba-tiba mengajukan resign?
Kalau iya, Anda tidak sendirian.
Fenomena ini semakin sering terjadi di berbagai perusahaan, mulai dari UMKM hingga perusahaan berskala besar. Ironisnya, keputusan keluar tersebut justru muncul setelah perusahaan menginvestasikan banyak waktu, tenaga, dan biaya untuk proses rekrutmen, onboarding, hingga pelatihan.
Banyak orang mengira masa probation adalah tahap untuk menilai kemampuan karyawan. Padahal, di sisi lain, karyawan juga sedang "menilai" perusahaan.
Mereka mengamati budaya kerja, cara atasan memimpin, sistem operasional, peluang berkembang, hingga apakah ekspektasi saat wawancara benar-benar sesuai dengan kenyataan.
Tidak sedikit perusahaan yang baru menyadari adanya masalah ketika karyawan mulai mengundurkan diri satu per satu. Padahal, tanda-tandanya sering kali sudah muncul sejak awal masa kerja.
Menurut laporan Workmonitor 2025 dari Randstad, sekitar 48% pekerja secara global akan mempertimbangkan keluar apabila lingkungan kerja tidak sesuai dengan nilai atau harapan mereka, bahkan meskipun kompensasi yang diterima cukup baik.
Sementara itu, laporan Gallup juga menunjukkan bahwa rendahnya keterlibatan (employee engagement) menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka turnover di berbagai perusahaan.
Artinya, mempertahankan karyawan kini bukan hanya soal memberikan gaji tinggi. Pengalaman bekerja secara keseluruhan menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.
Yuk, baca artikel ini sampai selesai. Anda akan mengetahui kenapa resign setelah probation semakin sering terjadi, apa saja penyebab yang sering luput dari perhatian perusahaan, serta strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah kehilangan talenta terbaik sejak awal.
Fenomena Resign Setelah Masa Probation Semakin Sering Terjadi

Dulu, masa probation identik dengan proses adaptasi. Karyawan baru cenderung bertahan karena merasa masih harus membuktikan kemampuan mereka.
Namun, kondisinya kini sudah berubah.
Generasi pekerja saat ini, terutama Millennial dan Gen Z, memiliki cara pandang yang berbeda terhadap pekerjaan. Mereka tidak lagi melihat pekerjaan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai tempat berkembang, belajar, dan memperoleh pengalaman kerja yang sehat.
Inilah yang membuat fenomena resign setelah masa probation semakin banyak ditemukan di berbagai industri.
Bahkan menurut laporan Microsoft Work Trend Index, mayoritas pekerja modern lebih mengutamakan fleksibilitas kerja, kesempatan berkembang, dan keseimbangan kehidupan pribadi dibandingkan sekadar besaran gaji.
Di Indonesia sendiri, kondisi serupa juga mulai terlihat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok usia produktif mendominasi angkatan kerja nasional. Karakteristik generasi ini cenderung lebih berani berpindah pekerjaan apabila merasa lingkungan kerja tidak memberikan pengalaman yang sesuai dengan harapan.
Hal tersebut membuat perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan proses rekrutmen yang baik saja. Pengalaman karyawan setelah bergabung justru menjadi faktor yang menentukan apakah mereka akan bertahan atau memilih pergi.
Sayangnya, masih banyak pemilik bisnis yang menganggap pengunduran diri setelah masa probation sebagai sesuatu yang "wajar". Padahal, jika terus berulang, dampaknya bisa sangat besar terhadap operasional perusahaan.
Mulai dari meningkatnya biaya rekrutmen, proses pelatihan yang harus diulang, produktivitas tim yang menurun, hingga beban kerja karyawan lain yang ikut bertambah.
Kenapa Masa Probation Justru Menjadi Momen Penentu?
Banyak perusahaan melihat probation sebagai waktu untuk mengevaluasi performa karyawan.
Padahal kenyataannya, evaluasi berlangsung dua arah.
Selama tiga hingga enam bulan pertama, karyawan biasanya mulai menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan yang sebelumnya hanya mereka bayangkan saat proses wawancara.
Misalnya:
- Apakah budaya kerja benar-benar sehat?
- Apakah atasan memberikan arahan yang jelas?
- Apakah beban kerja sesuai dengan penjelasan saat rekrutmen?
- Apakah ada peluang berkembang?
- Apakah komunikasi antar tim berjalan dengan baik?
Jika sebagian besar jawabannya negatif, rasa antusias yang awalnya tinggi perlahan berubah menjadi keraguan.
Tidak sedikit karyawan yang akhirnya memilih menyelesaikan masa probation terlebih dahulu sebelum mengajukan resign. Alasannya sederhana, mereka ingin tetap terlihat profesional sekaligus memiliki pengalaman kerja yang lengkap di CV.
Dari sudut pandang perusahaan, kondisi ini sering kali terasa mengejutkan.
Padahal, keputusan tersebut biasanya bukan muncul dalam semalam. Ada akumulasi pengalaman yang membuat karyawan merasa perusahaan bukan tempat yang tepat bagi mereka.
Inilah mengapa memahami fenomena resign setelah masa probation menjadi semakin penting bagi setiap pemilik bisnis. Semakin cepat akar masalah dikenali, semakin besar pula peluang perusahaan mempertahankan talenta terbaik sebelum mereka benar-benar memutuskan pergi.
5 Alasan Banyak Karyawan Memilih Pergi Setelah Probation

Setelah memahami bahwa masa probation merupakan periode saling mengevaluasi antara perusahaan dan karyawan, pertanyaan berikutnya adalah, apa sebenarnya yang membuat seseorang memilih keluar setelah berhasil melewati tahap tersebut?
Jawabannya tidak selalu berkaitan dengan gaji. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut dipengaruhi oleh pengalaman kerja yang dirasakan setiap hari. Berikut beberapa alasan banyak karyawan resign setelah masa probation yang paling sering ditemukan.
1. Ekspektasi Saat Rekrutmen Tidak Sesuai dengan Kenyataan
Salah satu penyebab terbesar adalah adanya expectation gap.
Ketika proses rekrutmen berlangsung, perusahaan tentu ingin menarik kandidat terbaik. Sayangnya, ada kalanya informasi yang disampaikan terlalu ideal sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
Misalnya, perusahaan menjanjikan lingkungan kerja yang kolaboratif, tetapi setelah bergabung karyawan justru bekerja sendiri tanpa arahan yang jelas. Atau, posisi yang ditawarkan lebih banyak mengerjakan tugas di luar deskripsi pekerjaan.
Semakin besar perbedaan antara ekspektasi dan realitas, semakin cepat pula rasa kecewa muncul.
Menurut survei dari Gallup, pengalaman kerja pada 90 hari pertama memiliki pengaruh besar terhadap keputusan karyawan untuk bertahan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, proses onboarding dan komunikasi yang transparan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
2. Hubungan dengan Atasan Kurang Sehat
Ada satu kalimat yang sering terdengar di dunia HR:
"People don't leave companies. They leave managers."
Kalimat tersebut memang tidak selalu benar, tetapi ada banyak fakta yang mendukungnya.
Atasan adalah orang yang paling sering berinteraksi dengan karyawan setiap hari. Cara memberikan arahan, menyampaikan kritik, hingga menghargai hasil kerja akan sangat memengaruhi pengalaman bekerja.
Apabila selama masa probation karyawan merasa tidak didengar, sering disalahkan tanpa solusi, atau tidak mendapatkan dukungan saat menghadapi tantangan, motivasi mereka perlahan akan menurun.
Sebaliknya, seorang pemimpin yang mampu menjadi mentor akan membuat karyawan merasa dihargai dan lebih percaya diri untuk berkembang.
Bagi pemilik bisnis, kualitas kepemimpinan lini pertama sering kali menjadi investasi yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar menawarkan fasilitas tambahan.
3. Budaya Kerja Tidak Sesuai dengan Nilai Pribadi
Setiap perusahaan memiliki budaya kerja yang berbeda.
Ada yang serba cepat, ada yang fleksibel, ada pula yang sangat formal.
Masalah muncul ketika budaya tersebut tidak sesuai dengan karakter karyawan.
Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa bekerja dengan komunikasi terbuka akan merasa sulit beradaptasi di lingkungan yang sangat birokratis. Sebaliknya, karyawan yang menyukai struktur kerja yang jelas bisa merasa kewalahan ketika semua keputusan berubah setiap hari.
Perbedaan ini memang bukan kesalahan siapa pun. Namun, jika tidak segera ditemukan titik temunya, keputusan untuk keluar sering kali menjadi jalan yang dianggap paling realistis.
Oleh karena itu, proses rekrutmen sebaiknya tidak hanya menilai skill, tetapi juga kesesuaian nilai (culture fit) antara kandidat dan perusahaan.
Saatnya Mencegah Masalah Sebelum Karyawan Memutuskan Pergi
Banyak pemilik bisnis baru menyadari adanya masalah ketika surat resign sudah berada di meja HR.
Padahal, tanda-tandanya sering muncul jauh lebih awal, misalnya penurunan produktivitas, keterlambatan yang semakin sering, komunikasi yang mulai pasif, atau tingkat keterlibatan yang menurun.
Semua indikator tersebut akan lebih mudah dipantau apabila perusahaan memiliki sistem pengelolaan SDM yang terintegrasi, bukan lagi mengandalkan pencatatan manual.
Di sinilah teknologi mulai memainkan peran penting. HR dapat memantau kehadiran, pola kedisiplinan, hingga data administratif secara lebih rapi melalui aplikasi absensi online yang terhubung dengan berbagai proses HR lainnya.
Dengan data yang lebih akurat, perusahaan dapat mengambil tindakan lebih cepat sebelum masalah berkembang menjadi keputusan resign.
Salah satu solusi yang dapat membantu adalah Kerjoo. Selain mempermudah pengelolaan administrasi HR, Kerjoo juga membantu perusahaan memperoleh data yang lebih lengkap untuk mendukung pengambilan keputusan, sehingga evaluasi selama masa probation tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi juga berdasarkan informasi yang objektif.
4. Tidak Ada Kejelasan Karier
Salah satu alasan mengapa karyawan bertahan adalah karena mereka melihat masa depan.
Sebaliknya, ketika tidak ada gambaran mengenai jenjang karier, kesempatan belajar, atau target yang ingin dicapai, motivasi bekerja akan menurun.
Generasi pekerja saat ini cenderung ingin mengetahui perkembangan karier mereka sejak awal.
Mereka ingin memahami:
- Apa target setelah probation?
- Kapan evaluasi dilakukan?
- Bagaimana peluang promosi?
- Kompetensi apa yang perlu ditingkatkan?
Jika seluruh pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang jelas, karyawan lebih mudah tergoda oleh peluang lain yang terlihat menawarkan perkembangan karier lebih baik.
5. Beban Kerja Tidak Seimbang dengan Apresiasi yang Diberikan
Tidak sedikit karyawan yang datang dengan semangat tinggi pada hari pertama bekerja. Mereka ingin memberikan hasil terbaik, belajar sebanyak mungkin, dan membuktikan kemampuan yang dimiliki.
Namun, semangat tersebut dapat memudar ketika mereka merasa beban kerja yang diberikan tidak sebanding dengan apresiasi yang diterima.
Apresiasi bukan selalu berarti kenaikan gaji. Bentuknya bisa berupa feedback yang membangun, pengakuan atas pencapaian, kesempatan mengikuti pelatihan, hingga ucapan terima kasih atas kontribusi yang telah diberikan.
Menurut laporan Workhuman-Gallup 2024, karyawan yang mendapatkan pengakuan secara rutin memiliki tingkat keterlibatan kerja (employee engagement) yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang memperoleh apresiasi.
Hal ini menunjukkan bahwa penghargaan sederhana dapat memberikan dampak besar terhadap loyalitas karyawan.
Sebaliknya, ketika seseorang merasa usahanya tidak pernah dihargai, muncul pertanyaan dalam benaknya, "Apakah saya benar-benar berkembang di sini?"
Pertanyaan inilah yang sering menjadi awal keputusan resign setelah probation.
Cara Mengantisipasi Karyawan Keluar Setelah Probation

Kabar baiknya, kondisi ini bukan sesuatu yang tidak bisa dicegah.
Justru, semakin dini perusahaan menyadari faktor-faktor penyebabnya, semakin besar peluang mempertahankan talenta terbaik.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh pemilik bisnis.
1. Bangun Ekspektasi yang Realistis Sejak Rekrutmen
Hindari memberikan gambaran yang terlalu sempurna mengenai perusahaan.
Jelaskan secara terbuka mengenai budaya kerja, tantangan pekerjaan, target yang harus dicapai, hingga sistem evaluasi yang berlaku.
Kandidat yang bergabung dengan ekspektasi realistis cenderung memiliki tingkat adaptasi yang lebih baik dibandingkan mereka yang merasa "tertipu" setelah mulai bekerja.
2. Perkuat Proses Onboarding
Onboarding bukan sekadar mengenalkan ruangan kantor atau membagikan laptop.
Masa 30 hingga 90 hari pertama merupakan periode penting untuk membantu karyawan memahami budaya perusahaan, membangun relasi dengan tim, dan mengenal tanggung jawab pekerjaannya secara bertahap.
Semakin nyaman pengalaman awal yang mereka rasakan, semakin besar kemungkinan mereka bertahan dalam jangka panjang.
3. Lakukan Evaluasi Secara Berkala, Bukan Hanya di Akhir Probation
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah evaluasi baru dilakukan ketika masa probation hampir selesai.
Padahal, evaluasi mingguan atau bulanan jauh lebih efektif.
Melalui sesi one-on-one meeting, perusahaan dapat mengetahui hambatan yang sedang dihadapi karyawan sekaligus memberikan solusi sebelum masalah berkembang menjadi keinginan untuk resign.
Selain itu, karyawan juga merasa pendapat mereka didengar dan dihargai.
4. Gunakan Data untuk Mengambil Keputusan HR
Mengelola puluhan hingga ratusan karyawan tentu tidak mudah jika masih mengandalkan pencatatan manual.
Data mengenai kehadiran, keterlambatan, izin, cuti, hingga performa administrasi sebaiknya terdokumentasi dengan rapi agar HR dapat melihat pola yang mungkin menjadi indikator awal menurunnya keterlibatan karyawan.
Melalui sistem absensi online yang terintegrasi dengan proses HR lainnya, perusahaan dapat memperoleh data yang lebih akurat dan mudah dianalisis. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak lagi berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan.
Mempertahankan Karyawan Sama Pentingnya dengan Merekrut Kandidat
Banyak perusahaan menghabiskan waktu dan biaya untuk mencari kandidat terbaik, tetapi lupa mempersiapkan pengalaman kerja yang membuat mereka ingin bertahan.
Padahal, keberhasilan rekrutmen bukan diukur dari berapa banyak kandidat yang diterima, melainkan berapa banyak karyawan berkualitas yang tetap berkembang bersama perusahaan.
Ketika angka turnover terus meningkat setelah masa probation, itu bisa menjadi sinyal bahwa ada proses internal yang perlu dievaluasi, mulai dari rekrutmen, onboarding, kepemimpinan, komunikasi, hingga sistem pengelolaan SDM.
Perusahaan yang mampu memperbaiki aspek-aspek tersebut akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun tim yang solid, produktif, dan loyal dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Keputusan karyawan untuk resign setelah probation bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Di balik keputusan tersebut, biasanya terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari ekspektasi yang tidak sesuai, budaya kerja, kualitas kepemimpinan, minimnya peluang berkembang, hingga kurangnya apresiasi terhadap kontribusi karyawan.
Kabar baiknya, sebagian besar penyebab tersebut dapat diantisipasi apabila perusahaan mulai membangun pengalaman kerja yang positif sejak hari pertama karyawan bergabung.
Mulailah dari langkah sederhana, seperti membangun komunikasi yang terbuka, memberikan proses onboarding yang terarah, melakukan evaluasi secara berkala, hingga memanfaatkan data untuk mendukung setiap keputusan HR.
Di sisi lain, perusahaan juga dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan SDM melalui solusi digital seperti Kerjoo. Dengan sistem yang terintegrasi, HR dapat mengelola administrasi karyawan, memantau data kehadiran, serta melakukan evaluasi secara lebih efektif sehingga potensi masalah dapat dideteksi lebih awal sebelum berujung pada pengunduran diri.
Mempertahankan talenta terbaik selalu lebih hemat dibandingkan harus terus-menerus merekrut pengganti. Karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat bagi bisnis Anda untuk mulai membangun sistem kerja yang lebih transparan, efisien, dan mendukung pengalaman karyawan secara menyeluruh.
Ingin mendapatkan lebih banyak insight seputar HR, pengelolaan karyawan, dan strategi membangun tim yang lebih produktif? Yuk, baca artikel-artikel lainnya di blog Kerjoo dan temukan berbagai tips praktis yang relevan untuk mengembangkan bisnis Anda di era kerja modern.
Referensi
Badan Pusat Statistik (BPS). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia.
Gallup. State of the Global Workplace Report 2024.
Workhuman & Gallup. From Praise to Profits: The Business Case for Recognition 2024.
Randstad. Workmonitor Report 2025.
Microsoft. Work Trend Index.
Society for Human Resource Management (SHRM). Employee Retention & Turnover Insights.