7 Alasan Karyawan Resign, Bagaimana Dengan Tempat Anda?

karyawan resign

Karyawan resign atau berhenti  dari pekerjaannya karena berbagai alasan. Mungkin mereka menikah dan mengikuti pasangan, mengurus rumah tangga, berganti profesi, atau melanjutkan kuliah. Alasan-alasan tersebut melibatkan hal personal terkait kehidupan di luar pekerjaan. Di sisi lain, alasan keluarnya dari pekerjaan juga bukan sesuatu yang dianggap bermasalah. Bagaimana kalau ternyata karyawan resign sebenarnya karena ada masalah yang tidak kunjung menemukan solusi? Hal seperti ini bisa menjadi alarm bagi perusahaan untuk membenahi beberapa hal.

Ketahui Alasan Karyawan Resign dari Pekerjaan

Berikut adalah alasan-alasan mengapa karyawan berhenti dari pekerjaan mereka.

1. Tidak Cocok dengan Atasannya

Karyawan memang tidak perlu berteman dengan atasannya tetapi setidaknya mereka harus memiliki kesamaan pikiran tentang orientasi pekerjaannya. Ada atasan yang terlalu mendominasi di tempat kerja, sehingga hal itu memicu situasi yang tidak nyaman. Atasan bisa memberikan arahan dan umpan balik atau menghabiskan waktu dalam pertemuan. Tapi jika hal tersebut sampai membuat karyawan terintimidasi, maka justru bisa mengurangi keterlibatan, kepercayaan, dan komitmen karyawan. Menurut banyak sumber, karakter pemimpin yang buruk juga merupakan alasan nomor satu mengapa karyawan berhenti dari pekerjaannya.

karyawan resign

2. Karyawan Resign karena Rekan Kerja

Bukan hanya dengan atasan, relasi dengan rekan kerja juga banyak memicu ketidakstabilan dalam tim kerja. Rekan kerja dengan siapa dia duduk, berinteraksi, dan bekerjasama dalam tim, merupakan komponen penting dari lingkungan kerja. Penelitian dari lembaga Gallup menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menjelaskan apakah seorang karyawan bahagia dalam pekerjaannya adalah memiliki sahabat di tempat kerja.

Hubungan baik dengan rekan kerja bisa mempertahankan karyawan terbaik. Hal ini sebenarnya bisa diminimalisir dengan sistem kerja yang lain. Ketika memungkinkan, sistem kerja remote working sebenarnya justru bisa mengurangi potensi konflik yang tidak perlu dengan rekan kerja.

3. Tidak Ada Work Life Balance

Ada orang yang bahkan baru hari kedua di pekerjaannya, tapi sudah merasa bahwa dia akan berhenti dalam waktu yang tidak lama. Bukan karena tidak mampu menjalankan job description, tapi ada hal lain. Contohnya adalah karena aturan waktu jam kerja kantornya yang kaku, tidak memberinya fleksibilitas untuk menangani tanggung jawab di keluarga, atau tidak mempedulikan hal personal.

Tidak adanya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan (work life balance) bisa membuat karyawan tidak bertahan. Kenyataannya tidak semua perusahaan memperhitungkan tanggung jawab keluarga atau tanggung jawab lainnya yang menuntut fleksibilitas. Dalam kasus tersebut, karyawan terkadang merasa lebih mudah untuk berhenti dan mencari tempat lain untuk bekerja daripada mengabaikan keluarga mereka.

4. Jenjang Karier Tidak Jelas

Jenjang karier juga bisa mempengaruhi karyawan resign. Banyak karyawan meninggalkan pekerjaannya ketika tidak ada jenjang karier yang jelas. Tidak peduli seberapa keras mereka berusaha atau seberapa maksimal keberhasilannya, tetap tidak ada peluang untuk berkembang ke posisi dengan penghasilan lebih tinggi. Ada juga situasi di mana anggota tim yang kurang berkualifikasi justru mendapat promosi, maka karyawan yang berkinerja tinggi memilih mencari tempat lain. HR perusahaan jelas harus memperhatikan jenjang karier yang objektif di perusahaan.

5. Pekerjaan yang Terlalu Banyak atau Terlalu Sedikit

Karyawan yang loyal dan berdedikasi seringkali mampu melakukan lebih dari yang wajib ditugaskan. Ketika kemampuan tersebut menguntungkan perusahaan, maka karyawan sering diminta untuk melakukan lebih banyak pekerjaan. Ketika kewajiban yang harus dia tangani bertambah, jam kerja pun semakin panjang.

Pada akhirnya dia akan kelelahan. Anggota tim yang lainnya mungkin jadi ikut terdampak. Satu poin pentingnya adalah bahwa kebosanan karena terlalu sedikit pekerjaan atau terlalu banyaknya pekerjaan bisa menjadi kondisi yang toxic. Pada akhirnya karyawan resign karena ritme kerja yang tidak cocok lagi dengan dirinya.

6. Sistem Reward yang Tidak Memadai

Setiap perusahaan yang bertumbuh dengan baik tentu memperlakukan timnya secara manusiawi. Ketika mereka sudah berusaha keras untuk pekerjaannya, maka mereka berhak mendapat apresiasi. Apresiasi bisa berupa kenaikan gaji, tambahan cuti, liburan, traktir makan siang, dan masih banyak lagi. Jika tidak ada kenaikan gaji dan penghargaan pun jarang terjadi, akan sangat mungkin jika karyawan terbaik pun akan berkurang loyalitasnya. Ketika karyawan melakukan pekerjaan dengan baik, mereka harus diapresiasi secara finansial maupun dengan hal-hal yang bernilai lainnya.

7. Kehilangan Makna dalam Pekerjaan

Setiap orang tentu ingin melakukan sesuatu yang bernilai, yang bukan hanya pekerjaan rutin atau transaksional, tapi juga berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar. Begitu juga karyawan yang ingin menemukan makna dalam pekerjaannya. Dalam hal ini, tugas pemimpin adalah mewadahi kemampuan timnya, untuk bisa memberi nilai lebih pada pekerjaannya.

Setidaknya agar mereka melihat bahwa pekerjaan yang dijalani berkontribusi dan memiliki arti bagi dunia. Bahwa pekerjaan setiap orang membutuhkan kebermaknaan yang sama. Karyawan perlu untuk merasa terhubung dengan pekerjaannya dan orang-orang yang bekerjasama dengannya. Apa jadinya jika rutinitas membuat mereka kehilangan makna dalam pekerjaan? Hal in juga bisa menjadi salah satu alasan karyawan resign.

karyawan resign

Bagaimana Mencegah Karyawan Resign?

Bukan hanya karyawan yang berusaha untuk meningkatkan pencapaiannya, tapi perusahaan juga memiliki tantangan tersendiri untuk mempertahankan tim terbaik yang dimiliki. Cara terbaik untuk mempertahankan orang terbaiknya adalah tetap berusaha memahami apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka bahagia dengan pekerjaan mereka?

Apakah kebutuhan mereka akan tantangan, rasa memiliki, pengembangan, dan pekerjaan yang berarti terpenuhi? Apakah komunikasi mereka lancar, bisa memecahkan masalah dengan baik, mendapat umpan balik, dan pengakuan yang mereka butuhkan? Setiap pemimpin perusahaan dan juga HR perlu memastikan tentang hal ini. Setidaknya jika ada karyawan resign, hal itu tidak mengurangi kestabilan di perusahaan.

Kesimpulan

Saat manajemen perusahaan telah berusaha untuk mendapatkan orang-orang terbaik di dalam timnya, tentu saja perusahaan tidak ingin kehilangan mereka karena resign. Ketika situasi masih dapat diatasi, turn over karyawan pun perlu dicegah. Agar karyawan dapat menjadi setia membuat komitmen jangka panjang pada suatu organisasi, pemberi kerja perlu memberi mereka alasan yang baik untuk tetap bertahan. Penting untuk diingat bahwa komitmen jangka panjang membutuhkan upaya di kedua arah.

Tentu perusahaan menginginkan untuk tetap menjaga karyawannya yang disiplin agar ritme kerja berjalan sesuai jadwal, sehingga potensi karyawan resign bisa diminimalisir. Perusahaan pun bisa menghemat waktu review kedisiplinan karyawan dengan aplikasi HR seperti Kerjoo. Dengan adanya fitur statistik, ekspor file, dan ringkasan kehadiran, maka perusahaan bisa melakukan review kedisiplinan karyawan secara cepat dengan melihat data per hari, per bulan, maupun per karyawan. Perusahaan Anda tidak perlu bersusah payah mengumpulkan data dan file secara manual karena semua sudah tersedia di dasbor admin aplikasi Kerjoo.

Leave a Reply