Karyawan Milennial Kurang Produktif? Begini Cara untuk Mengatasinya

karyawan milennial

Pernahkah Anda melihat rekan kerja Anda bisa menyelesaikan pekerjaan lebih banyak, sedangkan kadang Anda merasa kurang produktif? Atau barangkali hal ini sudah tidak lagi menjadi masalah lagi untuk Anda karena sudah menemukan rahasia untuk menjadi produktif setiap harinya. Ternyata, cara meningkatkan produktivitas untuk setiap orang berbeda. Karena memang setiap generasi memiliki motivasi yang berbeda-beda pula. Karyawan milennial yang masih muda pada umumnya memiliki pola pikir berbeda dibanding generasi pendahulunya.

Salah satu kelompok yang sering disebut-sebut di dunia kerja adalah karyawan milennial. Generasi milenial sendiri juga disebut juga dengan generasi Y. Mereka adalah orang-orang yang lahir tahun 1980-an sampai 2000. Memang ada beberapa versi tentang rentang usianya. Ada yang menyebutkan bahwa mereka kelahiran 1980 sampai 1995. Yang menjadi ciri khas adalah karakter dan gaya bekerjanya.

Keunikan generasi milenial dibanding generasi sebelumnya adalah karena paparan teknologi dan informasi di internet yang berkembang pesat. Karena teknologi itulah, produktivitasnya meningkat. Menurut survey yang dilakukan Microsoft, ditemukan bahwa 93% responden milennial percaya bahwa produktivitas bisa jadi kunci kebahagiaan.

karyawan milennial

Ada saatnya karyawan milenial yang seharusnya produktif, justru belum menghasilkan sesuatu yang sesuai ekspektasi. Apa yang harus dilakukan jika karyawan generasi milenial kurang produktif? Dalam hal ini, divisi HR di setiap perusahaan pastinya sering menghadapi.

Yang Harus Dilakukan Agar Karyawan Milennial Produktif

Ketika kita melihat banyak hasil penelitian tentang dunia kerja, hampir semuanya memang memperlihatkan bahwa produktivitas generasi milenial sangat tergantung pada internet. Apa yang dilakukan pun sangat dinamis dan mungkin tidak sama seperti apa yang dilakukan orang tuanya. Banyak perubahan terjadi dari waktu ke waktu, khususnya terkait pekerjaannya. Lalu apa yang seharusnya dilakukan ketika karyawan milenial kurang produktif?

Karyawan Milennial Berani Mencoba-coba

Menurut data dari Kementerian Tenaga Kerja pada tahun 2017, ada 63% lulusan baru atau fresh graduate di Indonesia bekerja di luar bidang yang diambil di pendidikan formalnya. Seiring dengan perkembangan teknologi dan terbukanya banyak peluang, mereka pun berani mencoba-coba untuk bekerja di luar bidang. Sebagian mereka menemukan minat yang baru, sedangkan sebagian yang lain masih belum mengetahui minat dan bakat terbesar dalam dirinya. Yang harus dilakukan HR perusahaan saat menghadapi milenial yang masih mencoba-coba adalah memfasilitasi pengembangan diri, atau memberikan tugas-tugas yang menantang serta bisa menumbuhkan daya kreatif mereka.

Mendengarkan Aspirasi Mereka yang Jadi ‘Kutu Loncat’

Terkait dengan poin sebelumnya, generasi milennial cenderung akrab dengan perubahan. Lingkungan kerja yang dinamis dan membutuhkan kreativitas adalah sesuatu yang menarik bagi mereka. Mereka cenderung tidak suka dengan hal yang statis atau bersifat rutinitas semata.

Tidak heran kalau mereka memilih pekerjaan yang paling sesuai minatnya, sehingga tidak sedikit yang dijuluki kutu loncat karena berganti-ganti pekerjaan. Hal seperti ini ada baik buruknya. Orang-orang yang menjadi ‘kutu loncat’ pada dasarnya adalah berani mengambil risiko dan penuh dengan ide kreatif. Tapi ketika tidak dikendalikan dengan baik, potensi turnover di perusahaan sangat tinggi dan membuat perusahaan tidak stabil. HR perusahaan bisa mendengar aspirasi mereka dan memberi feedback positif.

Membekali dengan Skill Etrepreneur

Para karyawan milenial sangat tertarik dengan kesempatan untuk bertumbuh. Mereka juga tidak masalah dengan tempat kerja yang kecil, asal ada sesuatu yang dipelajari. Generasi meilenial menyukai ruang untuk berekspresi dan jenis pekerjaan yang tidak terlalu terikat. Bukan berarti tidak disiplin, tapi mereka memiliki orientasi ke depan untuk bisa mandiri menjadi entrepreneur sesuai dengan minatnya.

Sementara itu, McKinsey Global Institute menyebut bahwa pada tahun 2030 negara Indonesia memerlukan 113 juta tenaga kerja yang terampil. Dilansir dari Lokadata, Indonesia kelak jadi kekuatan ekonomi yang terbesar ke-7 dunia. Karyawan milenial memiliki cita-cita untuk ambil bagian dari momen kemajuan itu dan memberdayakan banyak orang di masa depan.

Membuat Jam Kerja Fleksibel untuk Karyawan Milennial

Generasi milenial suka dengan jam kerja yang fleksibel dan juga sistem kerja jarak jauh. Ini bukan tentang penjadwalan yang fleksibel dan bekerja dari jarak jauh, tapi tentang memahami bahwa setiap orang memiliki prioritas di luar pekerjaan. Ini tentang pemahaman bahwa perusahaan tempat kerjanya peduli dengan urusan seperti keluarga, kesehatan, dan kehidupan pribadi. Ketika karyawan dipedulikan, maka mereka merasa lebih dihargai atau diapresiasi.

Perusahaan bisa mengatur jam kerja dengan mudah. Dengan aplikasi absensi online, perusahaan jadwal kerja harian maupun shift bisa diatur dengan mudah karena ada fitur jam kerja. Aplikasinya memang dibuat untuk memudahkan untuk mengelola karyawan.

Memberi Feedback yang Positif

Mungkin jam kerja yang fleksibel dan bekerja dari jarak jauh tidak dapat dilakukan untuk semua orang. Tetapi perusahaan perlu memahami apa yang dibutuhkan setiap orang dan melakukan yang terbaik untuk memberikan apa yang dapat dilakukannya. Ini adalah hal mendasar yang sudah seharusnya dilakukan perusahaan.

Selain jam kerja fleksibel, bagi karyawan generasi milenial, feedback atau umpan balik yang positif adalah hal yang sangat mereka sukai. Bagi perusahaan, ini adalah cara terbaik untuk melibatkan dan mempertahankan karyawan milenial yang memiliki potensi.

karyawan milenial

Memperhatikan Kesehatan Mental Karyawan

Aspek kesehatan adalah sesuatu yang benar-benar urgen setelah dunia mengalami masa pandemi. Kesehatan di sini adalah fisik dan mental. Selain penting untuk menjaga kesehatan fisik, ternyata kesehatan mental juga sama pentingnya. Salah satu gangguan bagi kesehatan mental milenial karena pekerjaan adalah gejala burnout seperti yang diungkapkan oleh WHO (World Health Organization).

Menurut WHO, burnout adalah gangguan yang serius untuk kalangan milenial berusia 22-38 tahun di benua Amerika, Eropa, dan Asia. Burnout memicu lelah yang berkepanjangan, pikiran negatif, dan ketidaksanggupan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Mengetahui hal ini, perusahaan bisa memperhatikan karyawannya agar lebih seimbang antara bekerja dan menjalani hidupnya. Ketika karyawan milenial memiliki kondisi mental yang sehat, mereka pun lebih produktif dalam pekerjaannya.

Kesimpulan

Produktivitas dalam bekerja memang sudah seharusnya menjadi pencapaian di perusahaan manapun. Bukan hanya diukur dengan angka-angka, tapi produktivitas juga bisa dirasakan oleh setiap individu. Karyawan milenial ternyata memiliki karakteristik yang unik dalam menjalani pekerjaannya. Ini bukan tentang kalangan milenial saja, tapi tentang manusia pada umumnya. Karena semua orang perlu merasa dihargai, diakui, dipercaya, dan dianggap penting. Jika perusahaan bisa memenuhi kebutuhan mereka, maka divisi HR tidak akan kesulitan menarik dan mempertahankan SDM terbaiknya.

Karyawan dengan perusahaan pada dasarnya saling membutuhkan, dan semua aktivitasnya adalah proses yang bergulir dengan tujuan yang jelas. Untuk menjaga karyawan milennial tetap produktif, perusahan perlu membuat beberapa pendekatan yang sesuai nilai personal mereka. Salah satunya bisa dimulai dengan software aplikasi yang bisa membantu review kedisiplinan mereka dengan lebih objektif.

Leave a Reply